Labels

Labels

Sunday, April 30, 2017

Jadwal US/M Satuan Pendidikan dan Utama Kelas VI MI Al Raudlah TP. 2016/2017

View Article
Jadwal US/M Satuan Pendidikan dan Utama Kelas VI MI Al Raudlah TP. 2016/2017

Jadwal US/M Satuan Pendidikan dan Utama Kelas VI MI Al Raudlah TP. 2016/2017

Jadwal Kegiatan Akhir Kelas VI TP 2016/2017 MI Al Raudlah

View Article
Jadwal Kegiatan Akhir Kelas VI TP 2016/2017 MI Al Raudlah

Jadwal Kegiatan Akhir Kelas VI TP 2016/2017 MI Al Raudlah

Sunday, September 11, 2016

TEKS KHUTBAH IDUL ADHA oleh BUYA YAHYA 2016

View Article
TEKS KHUTBAH IDUL ADHA oleh BUYA YAHYA 2016


Saturday, August 20, 2016

Cerita Cinta dibalik Lahirnya Shalahuddin Al-Ayyubi

View Article
Cerita Cinta dibalik Lahirnya Shalahuddin Al-Ayyubi
Ilustrasi Shalahuddin Al-Ayyubi
Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit saat itu belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yang bernama Asaduddin Syerkuh bertanya:
“Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”
Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”
“Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”
“Siapa?”
“Puteri Malik Syah, anak Sultan Muhammad bin Malik Syah, Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik, dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”
Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”
Heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”
Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”
Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.
Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.
Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”
Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”
Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.
Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada si gadis, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”
Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”
Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”
Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dia cocok untukku!”
Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.
Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.
Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa? Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.
Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.
Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”
Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”
Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”
Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis itu.
Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Anak itu lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M. Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal dengan nama SHALAHUDDIN AL AYYUBI (صلاح الدین ایوبی).
Dikutip dari Talkhis Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin

Oleh: Danang Kuncoro Wicaksono

Thursday, August 18, 2016

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

View Article
Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda
Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Tabel Perkalian 1 - 10 Bentuk Roda

Sunday, August 14, 2016

Belajar Menghitung Satuan Jarak, kecepatan Dan Waktu Tempuh

View Article
Belajar Menghitung Satuan Jarak, kecepatan Dan Waktu Tempuh
Ketika kita melakukan perjalan dengan menggunakan motor atau mobil, sering kali kita melihat ke arah speedo meter, dan mengetahui kecepatan motor atau mobil tersebut, namun dari sana harusnya kita bisa mengetahui banyak hal. Satuan jarak biasanya Kilo meter, meter atau centi meter penggunaannya biasanya berpatokkan pada jauh atau dekat nya kedua buah benda atau tempat, jarak dua kota biasanya Kilo meter (Km) jarak antara dua rumah berdekatan satuannya meter(m) atau jarak kedua buah benda diatas meja biasanya satuannya centi meter (cm).
Selain jarak ada juga satuan kecepatan Km/Jam atau permenit ini merupakan satuan kecepatan yang kita kenal nah, tak ingin panjang lebar mari saksikan dan mainkan media berikut ya....

Detik-detik Wafatnya Imam Al-Ghazali

View Article
Detik-detik Wafatnya Imam Al-Ghazali
Hujjatul Islam Imam Al-Gazali. Siapa tak kenal ulama tersohor ini? Kedalaman ilmu ulama bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi tersebut tak diragukan lagi, bahkan oleh para pengkritiknya. Karya tulisnya ratusan dan dibaca selama berabad-abad hingga sekarang. Madzhab tasawufnya diikuti. Ilmu kalamnya menjadi benteng. Dan ulasan ushul fiqihnya menjadi rujukan. Imam Al-Ghazali juga serius mendalami filsafat meski akhirnya ilmu ini ia kritik sendiri.

Reputasi Imam Al-Ghazali sebagai ilmuan diakui oleh kawan maupun lawan. Tapi yang mesti diingat, kehebatannya tak datang tiba-tiba. Ulama yang terkenal dengan karya monumental Ihya’ Ulumiddin ini melalui kehidupan berliku sejak kecil. Al-Ghazali hidup dalam keluarga miskin. Ayahnya yang sangat taat beragama adalah seorang pemintal dan melalui perkejaan sederhana ini pula ia menghidupi keluarga. Ia hanya mau menafkahi keluarga dari hasil jerih payahnya sendiri.

Meski diliputi hidup yang serbaterbatas, ayah Al-Ghazali menyimpan impian yang begitu menggebu, yakni kedua anaknya, Imam Al-Ghazali dan saudaranya (Imam Ahmad) kelak menjadi orang yang faqîh dan tonggak dalam suksesnya syiar Islam. Ayah Imam Al-Ghazali memang orang yang gemar mengunjungi majelis-majelis ilmu, melayani para ulama, dan ketika mendengarkan kalam guru-gurunya itu ia menangis dan merunduk sembari melangitkan doa bagi masa depan anak-anaknya.

Doa tersebut terkabul meski sang ayah tak menyaksikan kebesaran anak-anaknya karena wafat sebelum  mereka dewasa. Kerasnya hidup sebagai anak yatim dan semangat menimba ilmu yang terus berkobar membuat Al-Ghazali kecil dan saudaranya tumbuh sebagai manusia yang cerdas dan sangat disegani. Wawasannya luas dan terbuka, pribadinya penuh cinta dan kasih sayang, serta kezuhudan dan ketaatannya dalam beragama amat meyakinkan. Bahkan oleh sang guru, Imam al-Haramain, Al-Ghazali dijuluki “bahrun mughdiq” (lautan luas tak bertepi).

Imam Al-Ghazali pernah diangkat sebagai guru besar di Madrasah Nidhamiyah, Bagdad, era kekuasaan Nidhamul Mulk saat usianya 34 tahun. Ini adalah kedudukan tertinggi di dunia pendidikan dan keislaman zaman itu yang belum pernah disandang siapa pun dalam usia yang relatif muda. Meskipun, kehormatan itu sempat ia lepas begitu saja demi pendalamannya terhadap ilmu tasawuf.

Namun demikian, bukan statusnya sebagai profesor itu yang membuat kisah Imam Al-Ghazali menarik. Setelah mengakhiri pengabdian di Madrasah Nidhamiyah, sang imam pulang ke kampung asal, Thus, dan mendirikan zawiyah atau semacam pesantren untuk meneruskan khidmah mengajar hingga akhir hayat. Pada detik-detik kewafatannya, sebuah peristiwa indah terjadi.

Abul Faraj ibn al-Juuzi dalam kitab Ats-Tsabât 'indal Mamât memaparkan cerita dari Imam Ahmad, saudara kandung Imam Al-Ghazali. Suatu hari, persisnya Senin 14 Jumadil Akhir 505 H, saat terbit fajar, Imam Al-Ghazali mengambil wudhu lalu menunaikan shalat shubuh. Usai sembahyang, Al-Ghazali berkata, "Saya harus memakai kain kafan.” Lalu ia mengambil, mencium, dan meletakkan kain kafan tersebut di kedua matanya.

Selanjutnya, Imam Al-Ghazali berucap, “Saya siap kembali ke-hadirat-Mu dengan penuh ketaatan dan kepatuhan (sam‘an wa thâ’atan lid dukhûli ‘alal mulk).” Ia pun meluruskan kedua kakinya, menghadap arah kiblat, lalu kembali kepada Sang Kekasih untuk selama-lamanya. Innâlillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Imam Al-Ghazali wafat pada tahun 19 Desember 1111 dan dikebumikan di desa Thabran, kota Thus. Proses wafatnya yang tenang, damai, dan indah mencerminkan kualitas kehambaannya selama hidup. Kepergiannya ditangisi para ulama dan murid-muridnya. Imam Al-Ghazali mewariskan ratusan karya tulis, teladan, dan keilmuan yang tak lekang oleh zaman. (Mahbib Khoiron)