Monday, May 16, 2016

Rangkuman Pelajaran SKI Kelas VI (Enam)

Rangkuman Pelajaran SKI Kelas VI (Enam)






ô  JAZIRA ARAB SEBELUM NABI MUHAMMAD LAHIR
Ø  Di Jazirah Arab ada dua kerajaan besar yang bermusuhan yaitu Romawi Timur (Bizantium) yang beribukota di Konstatinopel dan Persia (sekarang Iran).
Ø  Jazirah Arab adalah benua Asia bagian barat yang disebut Timur Tengah

ô  KELAHIRAN NABI MUHAMMAD
Nabi Muhammad keturunan daru suku Qurais yaitu suatu suku yang paling terpandang di Makka, Ayah beliau bernama Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusayyi bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Qilab bin Ilyas bin Mudlor bin Nadzar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Adnan bin Adad yang nasabnya bersambung dengan Nabi Ismail, sedangkan ibu beliau bernama Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zahrah bin Kilab bin Murrah, jadi silsilah Abdulla dan Siti Aminah bertemu pada Kilab bin Murrah. 
Nabi Muhammad dilahirkan pada tanggal 12 Rabi'ul awwal tahun gajah atau pada hari senin tanggal 20 Aprir 571. dinamai tahun gajah karna pada saat itu raja Abraha dari Syam ingin menghancurkan Ka'bah dengan pasukan gajahnya, hal ini diterangkan oleh Allah dalam surat al-Fiil.
Setelah tiga hari disusui oleh ibunya, maka Nabi Muhammad diserahkan kepada seorang wanita desa yang bernama Siti Halima dari bani Sa'ad untuk diasuh dan disusui.
Nabi Muhammad dalam asuhan Halima as-Sa'diyah selamah empat tahun, Nabi Muhammad dikembalikan karna Halimah merasa takut setelah mendengar cerita dari anak – anaknya bahwa Nabi Muhammad dadanya dibelah oleh dua orang (Malaikat Jibril dan Mikail) yang berjubah putih.
Nabi Muhammad hanya dua tahun dalam asuhan ibunya karna saat beliau berusia enam tahun beliau diajak oleh Siti Aminah yang ditemani oleh Umu Aiman (budak Abdullah) berziarah kemakam Ayah beliau (Sayyid Abdullah) di Yasrib (Madinah), tapi ditengah perjalanan pulang Siti Aminah sakit yang kemudian meninggal dan dimakamkan di desa Abwa'.
Setelah ibunya meninggal Nabi Muhammad dalam asuhan kakeknya (Abdul Muholib) itu juga hanya dua tahun, karna saat Nabi Muhammad berusia delapan tahun Abdul Mutholib meninggal dunia.
Kemudian Nabi Muhammad dalam asuhan Abu Thalib, pada usia 12 tahun Nabi Muhammad diajak pamannya pergi berdagang ke Syam, tapi ditengah perjalanan dicegat oleh seorang pendeta Nasrani (Bukhoira) yang mengatakan bahwa Muhammad kelak akan menjadi seorang Nabi dan orang – orang Yahudi ingin membunuhnya karna itu Abu Thalib harus kembali tidak boleh meneruskan perjalanan.  

ô  NABI MUHAMMAD BERDAGANG KE SYAM
Setelah Nabi Muhammad berusia 25 tahun  beliau berdagang dengan membawa barang dagangan Siti Khodijah (seorang janda cantik yang kaya – raya) dengan ditemani Maisaroh (pelayan Siti Khodijah)
Dalam berdagang Muhammad ditemani oleh pembantu Khodijah yang bernama Maisaroh, dalam perjalanan Maisaroh merasa sangat heran dia tidak kepanasan walau hari sangat terik itu karna dia dan Muhammad selalu dipayungi oleh mendung selain itu dalam berdagang Muhammad sangat jujur sehingga barang dagangannya laku keras dan mendapat laba yang sangat banyak. Setelah pulang Muhammad langsung melaporkan hasilnya kepada Siti Khodijah. Dari Maisaroh Khodijah tahu bahwa Muhammad mempunyai tanda – tanda kenabian seperti tanda – tanda dalam kitab Taurat dan Injil yang perna ia baca.

ô  PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD DAN SITI KHODIJAH
Setelah mendengar cerita dari Maisaroh Khodijah semakin tertarik dengan Nabi Muhammad dan berniat untuk melamarnya, maka khodijah meminta Nafisah binti Munirah untuk mengatakan kepada Nabi Muhammad dan Abu Thalib. Semula Nabi Muhammad ragu – ragu karna kemiskinannya, tabi Abu Thalib menyetujuinya sehingga Nabi Muhammad pun menerimanya.
Nabi Muhammad dan Siti Khadijah menikah dengan wali Amru bin Al-As'ad (paman Siti Khodijah). Pada saat itu Nabi Muhammad berusia 25 tahun dan Siti Khodijah berusia 40 tahun.
Resepsi pernikahannya dilaksanakan di rumah Khodijah, Nabi Muhammad diwakili oleh pamannya Abu Thalib sedangkan dari pihak Khodijah diwakili oleh Amru bin Al-Asad dan Waraqoh bin Naufal.
Walau perbedaan usia yang cukup jauh, tapi rumah tangga Nabi Muhammad sangatlah bahagia dan dikaruniai 6 orang putra dan putrid. Dua orang putra yaitu Qosim dan Abdullah dan empat orang putrid yaitu Ruqaiyyah, Zainab, Ummu Kultsum dan Siti Fatimah 
Setelah dewasa Ruqoyyah dinikakan dengan Uthbah, Zainab dengan Abi As bin Rabi' bin Abdi Syam dan Ummu Kultsum dengan Utaibah. Usia pernikahan Ruqoyyah dan Ummu Kultsum tidak berlangsung lama karna kedua suami mereka dipaksa untuk menceraikan mereka oleh ayahnya yaitu Abu Lahab.
Kemudian Ruqoyyah dinikahkan dengan Usman bin Affan dan setelah Ruqoyyah meninggal, Usman dinikahkan dengan Ummu Kultsum. Sedangkan Siti Fatimah dinikahkan dengan Ali bin Abi Tholib.

ô  USAHA NABI MUHAMMAD DALAM URUSAN KEMASYARAKATAN
Sejak kecil Nabi Muhammad selalu peduli dengan masyarakat disekitarnya, pada usia 15 tahun Nabi Muhammad ikut dalam perang Fijar antara suku Quraisy dan Kinanah dan juga melawan suku Qais dan Hawazin, beliau bertugas menyediakan anak panah untuk paman – pamannya.
Setelah perang Fijar berahir kedudukan suku Quraisy semakin merosot dimata – mata kabilah arab sehingga  sering terjadi perampokan, penganiayaan dan pembunuhan secara terang – terangan.
Melihat keadaan tersebut, Zubair bin Abdul Mutholib mengajak para pemimpin Quraisy untuk bermusyawarah dan bersumpah setia untuk membela kehormatan suku Quraisy. Peristiwa ini disebut Halful Fudhul.
Ketika nabi Muhammad berusia 35 tahun, kota Makkah dilanda banjir besar yang mengakibatkan Ka'bah rusak dan Hajar Aswad hanyut dari tempatnya. Orang – orang Makkah memperbaiki Ka'bah dan pada saat waktunya mengembalikan Hajar Aswad pada tempatnya, terjadilah pertikaian, karna masing – masing ketua suku merasa lebih berhak untuk mengembalikan Hajar Aswad, sebab siapa saja yang mengembalikan Halar Aswad maka dia mendapat kehormatan yang sangat besar.
Untuk menghindarkan pertumpahan darah, mereka membuat kesepakatan yang isinya "Siapa yang pertama kali masuk Masjidil Haram lewat pintu Babus Salam kesokan harinya", ternyata orang yang pertama kali masuk Masjidil Haram melalui pintu tersebut adalah Nabi Muhammad, karna itu beliau yang berhak meletakkan Hajar Aswad.
Untuk meletakkan Hajar Aswad, Nabi Muhammad membentangkan surbannya ketanah dan meletakkan Hajar Aswat di tengah, kemudian setiap kepala suku diminta untuk memegang keempatujung surban itu dan mengangkatnya bersamam – sama. Kemudian Nabi Muhammad meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya, karna kebijaksanaan nabi Muhammad itu mereka serentak menyebut Al-Amin yang artinya orang yang dapat dipercaya. 


ô  MUHAMMAD DIANGKAT MENJADI NABI DAN ROSUL
Ketika usia Nabi Muhammad mendekati 40 tahun, Nabi Muhammad sering mengalami kegalauan sehingga beliau memutuskan untuk menyepi di Gua Hira' di Jaball Nur sebelah utara kota Makkah
Setelah beberapa lama Nabi Muhammad beribadah di Gua Hira' pada malam yang sunyi yang bertepatan dengan tanggal 17 Ramadlon atau tanggal 6 Agustus 610 M datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu yang pertama yaitu surat Al-Alaq ayat 1 – 5 dan malam itu disebut malam lailatul Qodar yaitu malam putusan Tuhan.
Setelah menerima wahyu Nabi Muhammad segera pulang dengan wajah pucat karna ketakutan dan setelah rasa takutnya hilang maka Muhammad menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada Siti Khodijah.
Setelah peristiwa itu, Khodijah membawa Muhammad kepada sepupunya yang seorang pendeta Nasrani yaitu Waraqa bin Naufel
Muhammad menceritakan yang telah dialaminya kepada Waraqa, setelah mendengar cerita Muhammad Waraqa berkata " Demi Tuhan, yang datang itu adalah malaikat Jibril yang pernah datang kepada Musa. Baik – baik menjaga diri. Tabahkan hatimu Muhammad, kelak engkau akan diangkat Tuhan menjadi Rasul. Jangan takut, dan gembiralah menerima wahyu itu". Selain itu Waraqah juga memberitahu bahwa orang – orang kafir Quraisy akan mengusir Muhammad dan ia berjanji akan melindungi Muhammad.
Ada dua cara yang ditempuh Nabi Muhammad dalam menyebarkan agama Islam yaitu;
1.         Dengan cara sembunyi – sembunyi
Setelah Nabi Muhammad menerima wahyu yang ke-dua (surat اَلْمُدَثِّرْ), Nabi berda'wa secara sembunyi – sembunyi selama 3 tahun dan mereka yang masuk Islam dimasa itu disebut Assabiqunal Awwalun yang artinya orang – orang yang pertama kali masuk Islam diantaranya; Siti Khodijah, Ali bin Abi Tholib, Abu Bakar As-Shiddiq, Usman bin Affan, Zaid bin Haris, Bilal bin Raba', Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqos, Abdurrahman bin Auf, Arqam bin Abil Arqam, dll. Dan pembinaan iman yang dilakukan oleh Rasulullah dilakukan di rumah Arqam bin Abil Arqam yang disebut "Darul Arqam".
2.         Dengan cara terang – terangan
Setelah turunya ayat yang berbunyi
 فَسْدَعْ بِمَا تُعْمَرُوْوَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ maka Nabi Muhammad menyebarkan agama Islam secara terang – terangan diantaranya dengan;
o      Setelah menerima wahyu yang berbunyi
وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ أَقْرَبِيْنَ
Artinya : "Dan berilah peringatan kepada kaum kerabat yang terdekat
Maka Rasulullah meengundang para kerabatnya dan menyerukan agar mereka menyembah kepada Allah, tapi Abu Lahab berseru " hanya untuk ini kami kamu undang hai Muhammad, andai kata sekarang kami menghajarmu siapa yang akan membelamu"!, Ali Bin Abi Tholib yang waktu itu masih berusia 12 tahun berdiri sambil berkata " aku yang akan membela Nabi Muhammad". Kemudian semua orang bubar.
o      Nabi Muhammad mengumpulkan orang – orang di bukit Shafah, dan beliau berkhotbah menyerukan kepada masyarakat Makkah untuk menyembah Allah, tapi lagi – lagi Abulaha berseru " celakalah engkau wahai Muhammad". Setelah beberapa lama turunlah surat Al-Lahab ayat 1 – 5 yang isinya kutukan Allah terhadap Abu Lahab dan istrinya yang bernama Ummu Jamilah.  

ô  HAIJRAH NABI MUHAMMAD DAN KAUM MUSLIM
Ø  Di Makkah kaum muslimin mendapat perlakuan buruk dari kaum kafir Quraisy terutama dari para pemimpinnya, karna itu Nabi dan kaum muslimin melakukan hijrah yang antara lain;
F  Hijrah ke Abesenia yang pertama
Agama islam sedikit demi sedikit mulai diterima  0leh masyarakat Makka sehingga membuat kaum kafir Quraisy merasa terancam kedudukannya, kaum kafir Quraisy semakin meningkatkan aman dan penganiayaannya terhadap kaum muslimin.
Karna beratnya penderitaan kaum muslimin, maka Rasulullah memerintahkan untuk hijrah yang pertama kali ke Abbesenia (Etopia) karna raja Najasyi (Negus) penganut agama Nasrani yang adil dan bijaksana.
Kaum muslimin berangkat pada bulan ketuji tahun kelima kenabian yang dipimpin oleh Usman bin Ma;sum dengan 10 orang laki – laki dan 5 orang perempuan
Mengetahui kaum muslimin hijrah ke Abbesenia, kaum Quraisy mengirim surat kepada raja Najasi agar kaum muslimin diusir dari Abbesenia tapi raja Najasi menolak.
F  Hijrah ke Abesenia yang kedua
Kaum muslimin tinggal di Abbesenia selama dua bulan, karna merasa rindu dengan sanak keluarga mereka kemli ke Makka.
Sekembalinya dari Abbesenia agama Islam semakin berkembang sehingga tekanan dan siksaan semakin di tingkatkan oleh kaum kafir Quraisy.
Untuk menghindar dari siksaan tersebut sekali lagi Nabi Muhammad memerintahkan pada kaum muslimin umtuk Hijrah ke Abbesenia yang kedua.
Berangkatlah rombongan kaum muslimin yang berjumlah 101 orang yang dipimpin oleh Ja'far bin Abu Thalib, diantara yang ikut hijrah ada Usman bi Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah SAW.
Sesampainya di negri Abbesenia Ja'far bin Abu Thalib menerangkan maksud kedatangannya dan karna pergaulan yang baik, maka raja Negus menyatakan diri masuk Islam.
   
F  Setelah tidak berhasil menghentikan da'wah Nabi Muhammad dengan berbagai macam cara akhirnya kaum kafir Quraisy memutuskn untuk memboikot dan pengasingan keluarga Bani Hasyim, bani Abdul Mutholib dan kaum muslimin dan tidak seorang pun diperbolehkan berhubungan apalagi berhubungan dagang dengan mereka, hal ini terjadi selama 4 tahun.

F  Wafatnya dua pelinding Nabi
o    Setelah pemboikotan berakhir, maka kesengsaraan, kemiskinan dan kelaparan melanda mereka. Selang beberapa bulan berikutnya, dua orang pelindung Nabi Muhammad meninggal dunia yaitu;
Ÿ  Siti Khodijah, istri Nabi Muhammad yang meninggal dalam usia 65 tahun bertepatan pada tahun ke 15 kenabian atau tahun 625 M. dan dimakamkan di Ma'la di kota Makkah
Ÿ  Setelah beberapa hari paman Beliau Abu Tholib juga meninggal dunia dalam usia 80 tahun.
o    Karna ditinggal kedua orang tersebut Nabi Muhammad merasakan kesedihan yang amat dalam, dan tahun itu disebut Ammul Huzni yang artinya tahun kesedihan.

F  Hijrah ke Thaif
Setelah Siti Khodijah dan Abu Tholib meninggal dunia, orang – orang kafir Quraisy semakin kejam bahkan tidak berprikemanusiaan dalam menganiayah Nabi Muhammad dan orang – orang Islam lainnya. Beliau yakin bahwa kota Makkah tidak cocok lagi sebagai pusat dakwah, karna itu beliau memutuskan untuk mencari tempat lain sebagai tempat berdakwah.
Nabi mulai mengunjungi beberapa tempat, tapi tidak ada yang mau menerimanya, bahkan mereka mengejek dengan kata yang menyakitkan hati dan Nabi juga mendengar mereka berkata " Sekiranya kata – kata yang diserukannya baik, tentu famili dan kaum kerabatnyalah yang menerima lebih dulu"
Akhirnya sampailah Nabi Muhammad bersama Zaid bin Harisah di negeri Thaif. Negeri Thaif terkenal dengan hawa yang sejuk dan keramahan penduduknya terhadap tamu yang dating
Di Thaif, Nabi menyeru orang – orang terkemuka di kota itu agar menyembah Allah, tapi penduduk Thaif menolak sambil mengusir kedatangan Nabi Muhammad. Mereka mencaci maki, mempersorakkan dan melempari Nabi Muhammad dengan batu dan Nabi menderita luka.
Untuk membersihkan darah luka yang mengalir, Nabi Muhammad berteduh di kebun anggur, kemudian datanglah Malikat Jibril yang memohon agar diiinkan untuk menghimpit penduduk Negara Thaif dengan dua buah gunung. Nabi Muhammad menolak dan berdo'a:
اللّهُمَّ اهْدِقَوْمِىْ فَإِنَّهُمْ لاَيَعْلَمُوْنَ
Artinya " Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui".
Dari kejahuan, Addas tukang kebun datang membawa setangkai kurma untuk diberikan kepada Nabi Muhammad dari tuannya, ketika nabi makan beliau membaca Basmallah, mendengar bacaan itu, Addas terheran karena apa yang diucapkan Nabi sama dengan apa yang dia baca dan dia belum pernah mendengar penduduk negeri itu membacakannya.
Nabi Muhammad bertanya tentang tanah asal dan agama Addas. Ia menjawab, "Tanah asal saya adalah tempat kelahiran Nabi Yunus dan agama saya Nasrani". Nabi Muhammad membacakan kisah Nabi Yunus dalam Al-Qur'an, terharu Addas mendengarnya, lalu ia menyatakan dirinya sebagai pengikut Nabi Muhammad.  

ô  ISRA' DAN MI'RAJ NABI MUHAMMAD, SAW.
Setelah Siti Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia, Nabi kehilangan pelindung dari orang – orang kafir Qurais dan merasakan kesedihan yang cukup dalam yang disebut amul Huzni (tahun Kesedihan) dan untuk menghibur Nabi Allah mengisra' mi'rajkan Nabi Muhammad.
Isra; dan Mi'raj adalah perjalanan Nabi Muhammad pada malam hari dari masjidil Haram sampai ke masjidil Aqsha dan naik kesidratul Muntaha (langit ke tuju) dengan mengendarai Buroq (hewan yang memiliki kemampuan mencapai tujuan secepat kilat) dan ditemani Malaikat Jibril dan Mikail.
Dalam perjalanan Nabi Muhammad singgah dilima  tempat antara lain:
·               Kota Yatsrib, sekarang disebut Madinah Al-Munawwarah.
·               Kota Madyan, yaitu tempat persembunyian Nabi Musa ketika dikejar tentara Fir'aun.
·               Thursina, yaitu tempat Nabi Musa menerima wahyu dari Allah secara langsung (kitab taurat).
·               Baitul Lahem (Baitlehem), yaitu tempat kelahiran Nabi Isa.
·               Masjidil Aqsha di Palestina, yaitu tempat yang dituju dalam perjalanan tersebut. Palestina merupakan tempat suci ketiga setelah Makkah dan Madinah.
Pada setiap persinggahan, Nabi Muhammad selalu melakukan shalat dua rakaat. Sesampainya di Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad disuguhi dua buah gelas yang berisi susu dan arak, nabi Muhammad memilih gelas yang berisi susu, kemudian Malaikat Jibril mengucapkan selamat padanya karna beliau memilih yang terbaik bagi dirinya dan umatnya.
Setelah menjadi imam, Rasulullah diangkat ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT bersama Malaikat Jibril. Dalam perjalanan, Nabi dan Malaikat Jibril singgah di tujuh lapis langit taitu;
·               Langit pertama bertemu dengan Nabi Adan as.
·               Langit kedua bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Ishaq.
·               Langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf.
·               Langit keempat bertemu dengan Nabi Harun.
·               Langit kelima bertemu dengan Nabi Musa.
·               Langit keenam bertemu dengan Nabi Ibrahim.
Setelah melewati ketujuh lapis langit Nabi Muhammad diajak ke Baitul Makmur, tempat malaikat melaksanakan thawaf. Kemudian Nabi Muhammad naik menuju ke Sidratul Muntaha dan dalam perjalanan ini Malaikat Jibril tidak ikut.
Kemudian Rasulullah bertemu dengan Allah SWT, dalam pertemuan tersebut Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk melaksanakan shalat lima puluh waktu
Ketika hendak turun Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa dan beliau menceritakan tentang perintah shalat yang telah diterimanya dari Allah SWT. Mendengar cerita tersebut Nabi Musa menyuruh nabi Muhammad untuk menghadap Allah kembali guna meminta keringanan dan Allah pun memberi keringan menjadi empat puluh lima waktu. Nabi Muhammad disuruh kembali lagi oleh Nabi Musa karna dianggap masih terlalu berat bagi umat Nabi Muhammad dan beliau pun kembali menghadap Allah lagi beberapa kali sehingga Allah memerintahkan shalat lima waktu yang pahalanya sama dengan lima puluh waktu.
Pagi harinya Nabi Muhammad bertemu dengan Abu Jahal dan meminta Abu Jahal untuk mengumpulkan kaum Quraisy kemudian Nabi menceritakan kejadian yang telah dialaminya tadi malam yaitu bahwa beliau diisra' mi'rajkan oleh Allah dari Masjidil Haram ke Baitul Muqoddas lalu naik ke langit ketujuh dan kaum Quraisy mentertawakan Nabi Muhammad, bahkan mereka bilang bahwa nabi Muhammad sudah gila.
Kemudian mereka menemui Abu Bakar dan menceritakan semuanya, Abu Bakar bertanya kepada Nabi Muhammad apakah yang mereka ceritakan itu benar dan Nabi membenarkannya, kemudian dengan tegas Abu Bakar mengatakan bahwa ia mempercayai apa yang telah diceritakan oleh Nabi Muhammad dan Nabi memberinya gelar As-Shiddiq yang artinya jujur.
Dalam perjanan Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad melihat beberapa hal yang dinyakan kepada malaikat Jibril antaralain:
·         Tamsil Isra'
Õ     Nabi Muhammad melihat orang memotong padi (panen) terus – menerus, beliau bertanya kepada Jibril :"Siapa mereka?"
Jibril menjawab :"Mereka itu ibarat umatmu yang gemar beramal jariyah, yang kemudian mereka terus – menerus memetik pahalanya dari Allah. 
Õ     Nabi Muhammad melihat orang terus menerus memukul kepalanya, Nabi Muhammad bertanya: "Siapakah mereka itu ya, Jibril?"
Jawabnya : "Mereka ibarat umatmu yang enggan bershalat, yang kelak sangat menyesal dengan memukuli kepalanya sendiri terus -  menerus sekalipun terasa sakit olehnya." 
Õ     Melihat sbuah kuburn yang sangat harum bauhnya, Nabi bertanya : "Apakah itu ya, Jibril?"
Dijawabnya : "Itu kuburan Siti Mashitah dan anaknya. Dia mati disiksa dengan digodok oleh raja Fir'aun, karna mempertahankan keimanannnya kepada Allah SWT, sewaktu dipaksa supaya menyembah berhala." 
Õ     Melihat orang yang dihadapannya ada dua macam hidangan, sebelah kanan makanan lezat dan sebelah kirinya makanan busuk, orang itu dengan lahabnya memilih makanan busuk. Nabi bertanya : "Ya, Jibril siapakah mereka itu?" Jibril menjawab : "Ya Rasulullah itu ibarat umatmu yang suka membiarkan nafsunya memilih pekerjaan yang buruk dan dosa daripada beramal yang baik dan berpahala."  
·         Tamsil Mi;raj
Õ     Nabi Muhammad melihat orang yang gagah perkasa, orang itu bila menengok dan melihat ke kirinya merasa sedih dan menangis terseduh – seduh, tetapi bila menengok dan melihat kekanannya dia berseri – seri, gembira dan tersenyum. Nabi bertanya : "Siapakah orang itu ya, Jibril?" jawab Jibril : "Ya Rasulullah, dia itu bapakmu yang pertama yaitu Nabi Adam. Bila beliau melihat ke kiri itu sedih, karena melihat anak cucunya berbuat jahat dan dosa. Sebaliknya bila melihat ke kanan merasa gembira, karena melihat anak cucunya di dunia berbuat baik dan beramal shaleh.  

ô  HIJRAH KE MADINAH
Pada musim haji, tahun kesepuluh dari kenabian Nabi Muhammad memanfaatkan waktunya untuk berdakwah kepada orang – orang yang datang dari luar kota Mekkah diantaranya adalah orang – orang Yatsrib.
Beberapa orang Yatsrib dari suku Khazraj datang ke Mekkah untuk mengerjakan Haji, mereka disambut oleh Nabi Muhammad ditempat yang bernama Aqabah, sebuah tempat yang terletak antara Mina dan Makkah. Nabi Muhammad menyerukan agama Islam pada mereka dan mereka pun menerimanya dan setelah pulang ke Yatsrib mereka menyebarkan agama kepada penduduk Yatsrib.
Faktor yang menyebabkan penduduk Yatsrib mudah menerima agama Islam yaitu :
1.         Bangsa Arab Yatsrib lebih memahami agama ketuhanan, karna mereka sering mendengar tentang Allah, wahyu, kubur, Hisab, berbangkit, surga dan neraka dari orang Yahudi.
2.         Penduduk Yatsrib memerlukan seorang pemimpin yang mampu mempersatukan suku – suku yang saling bermusuhan. 
Pada tahun kedua belas kenabian, datang utusan dari kota Yatsrib dan dibuatlah perjanjian antara Nabi Muhammad dan orang – orang Yatsrib yang disebut perjanjian Aqabah yang pertama atau perjanjian wanita, karna dalam perjanjian tersebut ada seorang wanita yang bernama Afra binti Abid ibnu Tsa'labah. Isi perjanjian Aqabah yang pertama adalah :
3.         Kami tidak akan mempersekutukan Allah
4.         Kami tidak akan mencuri
5.         Kami tidak akan berzina
6.         Kami tidak akan membunuh anak – anak kami
7.         Kami tidak akan menfitnah dan menghasud
8.         Kami tidak akan mendurhakai Muhammad 
Diantara para sahabat dari Yatsrib (Suku Khazaraj) yang ikut dalam baiat Aqabah pertama antara lain :
1.         As'ad bin Zurarah
2.         Auf bin Malik
3.         Rafi' bin Malik al Ijlan
4.         Quthbah bin Amir
5.         Uqbah bin Amir
6.         Jabir Abdillah bin Ri'ab
Setelah baiat Nabi Muhammad bersabdah "Jika kalian semua memenuhi janji kalian, maka balasannya adalah surga. Jika kalian tidak menepati janji kalian, maka urusannya terserah kepada Allah. Jika berkehendak ia akan mengampuni.
Untuk keperluan penyebaran agama Islam Nabi Muhammad mengutus Mus'ab bin Umair bersama mereka untuk mengajarkan Al Qur'an dan ajaran Islam kepada  mereka. Prilaku Mus'ab yang terpuji, membuat orang – orang tertarik memeluk agama Islam dan merekapun rindu untk bertemu dengan Nabi Muhammad.
Pada tahun tiga belas kenabian, 73 orang Yatsrib dengan ditemani oleh Mus'ab bin Umair berkunjung ke Makkah untuk menemui Nabi Muhammad dan meminta beliau untuk pindah ke Yatsrib. Nabi setuju, kemudian dibuatlah perjanjian Aqabah yang kedua.
Dalam pertemuan yang kedua ini Nabi Muhammad ditemani oleh paman beliau yang bernama Abbas bin Abdul Mutholib. Abbas berpesan agar mereka menjaga Nabi Muhammad, karena Nabi akan bergabung dengan mereka.
Kemudian diadakanlah perjanjian Aqabah yang kedua yang isinya Nabi Muhammad meminta pada orang – orang Yatsrib untuk menjaga Nabi seperti seperti menjaga keluarga dan anak – anak merka dan merekapun sanggup.
Factor – factor yang mendorong Nabi Muhammad memilih Yatsrib sebagai tempat hijrah kaum muslimin antara lain :
1.         Yatsrib adalah tempat yang paling dekat dengan Makkah
2.         Sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad telah mempunyai hubungan baik dengan penduduk Yastrib. Karena kakek nabi Abdul Muthalib mempunyai istri orang Yatsrib.
3.         Penduduk Yatsrib memiliki sifat yang lemah lembut.
4.         Nabi Muhammad mempunyai kerabat di Yatsrib yaitu Bani Najar.
5.         Hijrah ke Yatsrib adalah perintah Allah.
Setelah melihat kaum muslimin banyak yang hijrah ke kota Yatsrib, orang kafir Quraisy merasa terancam dan merekapun mengadakan sidang di Darun Nadwah dan hasil keputusannya adalah Nabi Muhammad harus dibunuh dan siapa yang berhasil membunuh Nabi diberi hadiah 100 ekor Unta
Rencana kaum kafir Quraisy diketahui oleh Nabi Muhammad dan Allah memerintahkan Nabi untuk hijrah ke Yatsrib. Nabi memberi tahu kepada Abu Bakar dan Abu Bakar minta izin untuk menemani Nabi dan nabi pun setuju.
Pada waktu Nabi bersiap – siap untuk berangkat, beliau berpesan kepada Ali bin Abi Thalib, supaya Ali tidur ditempat tidurnya. Beliau juga berpesan kepada Ali untuk mengembalikan barang titipan kepada pemiliknya.
Ketika para pemuda mengepung rumah Nabi, tanpa sepengetahuan mereka Nabi keluar menuju rumah Abu Bakar sedangkan Ali bin Abi Thalib tidur di tempat peraduan Nabi.
Menjelang waktu subuh para pemuda yang mengepung rumah nabi telah siap untuk membunuh Nabi, karna biasanya nabi keluar untuk melaksanakan shalat subuh, karna tidak keluar – keluar mereka menggedor pintu hingga Ali terbangun dan membuka pintu.
Betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui yang keluar adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian mereka memaksa Ali untuk mengatatakan kemana Nabi pergi tapi Ali tidak mau.
Para pemuda Quraisy akhirnya mencari Nabi di  seluruh penjuru kota Makkah, dengan bantuan ahli penyelidik mereka mengikuti jejak Nabi dan jejak itu hilang di dekat gua Tsur, kmudian mereka bertanya kepada seorang pengembala dan dijawab " Mungkin mereka didalam gua, tapi saya tidak melihat orang menuju kesana.
Ketika mendengar jawaban pengembala itu, Abu Bakar bergetar, merasa takut akan tertangkap. Melihat kecemasan Abu Bakar, dengan tenang Nabi Muhammad berkata "Jangan takut dan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita."
Setelah diketahui di pintu gua Tsur ada burung yang sedang mengerami telurnya dan sarang laba – laba , maka para pemuda kafir Quraisy pun meninggalkan tempat itu dengan tangan hampa.
Nabi Muhammad dan Abu Bakar berada di gua Tsur selama tiga hari tiga malam. Selama di sana mereka dibantu oeh putra dan putrid Abu Bakar, yaitu Asma binti Abu Bakar bertugas mengantar makanan, Abdullah bin Abu Bakar bertugas menelidiki kafir Quraisy dan hasilnya dilaporkan kepada Nabi dan Abu Bakar, dan pembantu Abu Bakar (Amir bin Fuhairah) bertugas memberitahukan sesuatu yang diperlukan Nabi dan mengantarkan susu hasil perasannya kepada Nabi dan Abu Bakar.
Pada waktu Nabi dan Abu Bakar di tengah perjalanan, mereka dikejar oleh Suroqoh (pembunuh bayaran) tapi usahanya tidak berhasil, karna berkali –kali ia terjatuh dari kudanya saat hendak membunuh Nabi, bahkan kaki kudanya terpendam kedalam pasir. Setelah tidak berdaya membunuh Nabi, ia meminta ma'af kepada Nabi dan Nabi pun memaafkannya. Nabi berpesan kepadanya agar merahasiakan kepergiannya ke Yatsrib. Permintaan itu pun disanggupi oleh Suroqoh, sehingga Nabi melakukan perjalanan dengan selamat.
Akhirnya pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 13 kenabian, Nabi Muhammad dan Abu Bakar sampai di desa Quba, lebih kurang 10 Km dari kota Yatsrib. Nabi tinggal di Quba selama 4 hari, taklama kemudian datanglah rombongan keluarga Nabi dan Abu Bakar yang dipimpin oleh Ali bin Abi Tholib.
Selama di Quba Nabi mendirikan Masjid yang pertama diatas tanah milik Kultsum bin Hamdan yang disebut masjid Quba dan dalam Al-Qur'an disebut masjid Taqwa.
Pada hari Jum'at, tanggal 16 Rabiul Awwal tahun 1 Hijriyah yang bertepatan tanggal 2 Juli 622 Masehi, sampailah Nabi dan kaum Muhajirin di kota Yatsrib dan disambut meriah oleh penduduk Yastrib. Pada hari itu juga nabi untuk pertama kali melakukan shalat Jum'at yang diikuti oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Setelah kedatangan Nabi kota Yatsrib diganti dengan nama Madina Al Munawwarah yang artinya kota yang bercahaya. Dikota Madinah inilah Nabi mendirikan pemerintahan Islam (Daulah Islamiyah) dengan Nabi sebagai kapala Negara dan berpusat di Madinah dan undang – undang yang dipakai berdasarkan kepada Islam. 
Untuk menjaga kepentingan bersama dan keamanan kota Madina dibuat perjanjian antara umat Islam dan bangsa Yahudi Madinah yang disebut perjanjian Madinah (piagam Madiah/Deklarasi Madinah) yang isinya:
1.         Seluruh penduduk Madinah dibentuk menjadi kesatuan warga kota yang merdeka. Mereka bebas berpikir dan melakukan ibadah menurut agamanya masing – masing daan tidak boleh saling mengganggu.
2.         Apabila kota Madinah diserang musuh, semua warga kota harus mempertahankan bersama – sama dan memboikot musuh bersama dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial.
3.         Apabila salah satu golongan diserbu musuh, maka golongan lain harus membantunya.
4.         Muhammad Rasulullah adalah pemimpin umat untuk seluruh penduduk Madinah. Bila terjadi perselisihan antara kaum Yahudi dengan kaum Muslimin, maka penyelesaiannya dikembalikan kepada keadilan Rasulullah sebagai pemimpin tertinggi Madinah.
Selama di Madinah wahyu – wahyu yang diterima selalu berkaitan denga persoalan kemasyarakatan, Negara, politik, perkawinan dan perlakuan terhadap budak.
Di kota Madina, Nabi mengatur, memimpin, memberi komando kepada para sahabat yang aktif melakukan segala hal. Beliau mengatur tatanan masyarakat supaya hidup dalam kedamaian, bebas beragama dan menjalankan agama. Umat Islam, Yahudi dan Nasrani mendapatkan hak yang sama asal mereka menjunjung tinggi keputusan – keputusan yang telah disepakati.
Selanjutnya Nabi Muhammad mendirikan Masjid yang diberi nama Masjid Nabawi, diatas tanah dua anak yatim yang bernama Sahal dan Suhail, semula Sahal dan Suhail menghibahkan tanah mereka untuk kepentingan masjid, tetapi Nabi menolaknya karna beliau tahu anak – anak itu justru sangat memerlukan santunan hidup. Ini sebagai contoh bahwa harta anak yatim dipelihara oleh umat Islam.
Di samping masjid didirikan tempat tinggal yang menampung kaum muhajirin yang belum mempunyai rumah atau belum menikah dan di sebelah timur didirikan sebuahrumah dengan beberapa kamar sebagai tempat tinggal Nabi beserta keluarganya. Selama pembangunan Masjid nabi tinggal di rumah Abu Ayyub al Anshari.    

ô  KEPERWIRAAN NABI MUHAMMAD
ñ  Rasulullah adalah komandan dalam setiap perang yang diikuti-Nya setelah hijrah ke Madina, perang yang diikuti oleh Rasulullah (27 kali) disebut Ghozwa dan perang yang tidak diikuti oleh beliau (38 kali) disebut Sarriyah.
ñ  Perang dilakukan oleh rosulullah setelah turunnya surat اَلْحَجْ ayat 39. diantara perang Rasulullah antara lain;
F  Perang Badar
Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadlan tahun 2 Hijriyah, didekat sebuah perigi milik seorang yang bernama Badr.
Perang ini bermula ketika kafilah pimpinan Abu Sufyan bin Harb menuju ke Syam dicegat oleh kaum muslimin, mendengar itu Abu Sufyan kembali ke Makkah.
Mereka segera menyiapkan pasukan sebanyak 1000 orang sedang pasukan islam sebanyak 313 orang.
Dalam perang ini dibuka dengan adu tanding. Majulah dari pasukan kafir Quraisy Al Aswad bin Abdul asad, dapat dikalahkan oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Lalu muncul lagi dari pasuka Quraisy, Uthbah bin Rabi'ah, Syaibah dan Al Walid. Mereka dapat dikalahkan oleh Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib dan Ubaid bin Al Harits, setelah itu terjadilah perang terbuka yang dimenangkan oleh pasukan Islam 
Setelah perang usai, banyak korban yang jatuh dari kedua belah pihak, dari pasukan kafir Quraisy tujuh puluh orang terbunuh, termasuk Abu jahal da Umayah bin Halaf dan tujuh puluh orang lainnya tertawan. Sedang dari pihak Islam empat belas orang sebagai Syuhada'. 
F  Perang Uhud
Perang Uhud terjadi pada pertengahan bulan Sya'ban tahun ke-3 H. bertepatan dengan bulan Januari 625 M. yang terjadi di kaki bukit Uhud yang terletak di sebelah utara kota Madina.
Kekalahan kafir Quraisy pada perang Badar menimbulkan rasa dendam terhadap kaum muslimin. Oleh karena itu mereka bermaksud membalas, agar kekalahan dalam perang Badar tidak terulang lagi, kafir Quraisy mempersiapkan pasukan sebanyak 3000 orang dan perbekalan yang banyak.
Setelah Rasulullah mendengar bala tentara kafir Quraisy telah berangkat dari Makkah menuju Madinah, kemudian beliau mengadakan musyawarah, ada yang mengusulkan agar kaum muslimin menghadapi musuh di luar kota Madinah. Seribu pasukan muslim berangkat untuk menghadapi musuh yang menyerang. Baru saja sajah berangkat, seorang munafik yang bernama Abdullah ibnu Ubai beserta 300 pengikutnya keluar dari pasukan Islam.
Rasulullah beserta pasukan muslim sampai ke bukit Uhud, lalu beliau mengatur strategi penyerangan. Lima puluh pasukan pemanah dibawah pimpinan Abdullah ibnu Jubair, ditempatkan di atas bukit Uhud untuk menutup jalan pasukan berkuda Quraisy dan Rasulullah berpesan pada pasukan panah agar mereka tidak meninggalkan pos mereka.
Pertempuran dimulai dengan perang tanding, dari pihak kafir Quraisy keluarlah Thalha ibnu Abi Thalha yang dikalahkan oleh Ali bin Abi Thalib, lalu tampil Usama yang dikalahkan oleh Hamzah bin Abdul Muthalib, dan yang terahir As'ad saudara thalha dan Usama dan Musaimi yang juga dikalahkan oleh Ali bin Abi Thalib.
Pertempuran yang terjadi sangat dahsyat, semula perang dimenangkan oleh kaum muslimin, tapi karna tergiur oleh harta rampasan maka pesukan panah yang berada di atas bukit Uhud turun untuk mengambil harta rampasan dan kesempatan itu digunakan sebaik – baiknya oleh Khalid bin Walid dengan pasukan berkudanya sehingga pasukan muslim terdesak dan mengalami kekalahan.
Dalam pertempuran tersebut banyak pasukan Islam yang gugur sebagai syuhada', sebanyak tujuh puluh orang diantaranya adalah Mush'ab bin Umair dan Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah) yang dibunuh oleh Wahsyi budaknya Hindun (istri Abu Sufyan) dan Hindun memotong – motong tubuh Hamzah bahkan merobek perutnya dan diambilah hati Hamzah dan akan ditelannya, karna Hindun dendam pada Hamzah yang telah membunuh ayahnya (Uthbah) dalam perang Badar.
Slain itu Rasulullah juga dikabarkan telah gugur dalam medan pertempuran, tapi sebanarnya Rasulullah hanya luka – luka. Kekalahan diperang Uhud sebagai pelajaran bagi umat Islam agar patuh dengan komando dan strategi yang sudah ditentukan.  
    
F  Perang Khondaq (Ahzab)
Perang Khandaq terjadi pada bulan Syawal tahun 5 H, di sebelah utara kota Madinah. Perang ini terjadi antara umat Islam dan kaum Quraisy (terdiri dari beberapa kabilah) yang bekerja sama dengan bani Nadhir, karma terdiri dari beberapa kabilah, maka perang ini disebut perang "Ahzab".
melihat pasukan kagir Quraisy yang siap siaga, segera Rasulullah bermusyawarah, Salaman Al Farisi mengusulkan agar disekeiling kota Madinah dibangun parit (Khandaq), sehingga musuh akan merasa sulit masuk ke kota Madinah dan memudahkan bagi pasukan Islam untuk menghadangnya. Rasulullah menyetujuinya sehingga dibuatlah parit yang dari arah barat ke timur di utara kota Madinah. Ketika pasukan Quraisy memasuki kota Madinah mereka terkejut, karma kota Madinah dikelilingi oleh parit. Beberapa tokoh kafir Quraisy mencoba menerobos parit seperti yang dilakukanoleh Ikrimah bin Abu Jahal dan beberapa kawannya. Ikrima terbunuh oleh Ali bin Abi Thalib sedangkan kawan – kawannya melarikan diri.
Bani Quraidza melanggar perjanjian mereka enggan membantu umat Islam dalam mempertahankan kota Madinah dan bersekutu dengan pasukan kafir Quraisy. Seorang tokoh yang disegani oleh kafir Quraisy maupun Yahudi yang bernama Nu'aim bin Mas'ud, secara diam – diam memeluk agama Islam dia memecah belah kekuatan kafir Quraisy dengan bani Quraidzah.
Kafir Quraisy mengepung kota Madinah selama dua puluh hari dua puluh malam dan karma tidak dapat menembus pertahanan kaum muslim, maka mereka memutuskan untuk kembali ke kota Makka.  



F  Perang Mu'tah
Perang Mu'tah terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahu 7 H. Rasulullah menyiapkan 3000 tentara Islam untuk mengadakan pembalasan terhadap orang – orang yang telah membunuh Al-Harits ibnu Umair al-Azady yang dikirim untuk menyampaikan surat kepada penguasa Bashra. Rasulullah mengangkat Zaid bin Harits sebagai panglima perang, apabila Zaid gugur maka diganti oleh Ja'far bin Abu Thalib, dan apabila Ja'far gugur maka diganti oleh Abdullah bin Rawwahah.
Pasukan Islam melakukan perjalanan hingga sampai di Mu'tah, yaitu tempat dibunuhnya Al-Harits. Di tempat itu kaum muslimin bertemu dengan tentara Romawi yang berjumlah 150.000 orang. Terjadilah pertempuran yang dahsyat, dalam pertempuran itu Zaid bin Harits gugur, kemudian diganti oleh Ja'far bin Abi Thalib yang juga gugur, begitu juga dengan Abdullah bin Rawwahah yang menggantikan Ja'far juga gugur. Kemudian kaum muslimin mengangkat Khalid bin Walid sebaga panglima perang, berakat pengalaman dan keahliannya dalam peperangan, akhirnya ia berhasil menyatukan kembali tekad tentara Islam sehingga mereka tidak kocar – kacir.   
Pada keesokan harinya Khalid mengubah strategi pasukan muslimin. Ia memindahkan barisan tengah menjadi barisan depan, barisan depan menjadi bariran belakang, sayap kiri menjadi sayap kanan dan sayap kanan menjadi sayap kiri. Siasat yang dilakukan oleh Khalid membuat musuh menjadi gentar, mereka menganggap pasukan Islam mendapat bala bantuan.
Kemudian Khalid membawa tentara Islam mundur sampai ke Mu'tah, di tempat tersebut terjadi peperangan selama tujuh hari. Setelah itu kedua belah pihak menghentikan serangan, karena orang – rang kafir menduga bahwa bala bantuan Islam datang berbondong – bondong. Mereka kini merasa ngeri karena khawatir kaum muslimin menjebak mereka kepadang Sahara sehingga mereka tidak dapat melarikan diri bila terpukul mundur. Dengan demikian berhentilah peperangan itu.
Sewaktu perang Mu'tah terjadi, turunlah wahyu yang telah menceritakan tentang jalannya pertempuran dan pahlawan – pahlawan yang gugur. Kemudian Nabi Muhammad naik mimbar lalu berpidato menerangkan jalannya pertempuran dan gugurnya Zaid, Ja'far dan Abdullah. "kemudian" ujar beliau "Bendera Islam dipegang oleh Syaifullah (pedang Allah) yaitu Khalid bin Walid," sejak saat itu Kholid bin Walid bergelar Syaifullah. 
F  Perjanjian Hudaibiya
Setelah enam tahun hijrah ke Madinah, kaum Muslimin sangat merindukan Ka'bah dan mengerjakan umrah, sehingga Rasulullah mengizinkan umat Islam mengadakan perjalanan ke Makkah. Para sahabat gembira karna Rasulullah mengizinkan mereka ke Makkah, bahkan rasulullah sendiri berada diantara rombongan yang pergi ke Makkah, rombongan itu berjumlah sekitar 1000 orang.
Untuk menghilangkan prasangka orang kafir Quraisy atas kedatangan kaum muslimin, Rasulullah menganjurkan agar kaum muslimin memakai pakaian ihram. Tidak membawa alat – alat peperangan, kecuali pedang dalam sarungnya sekedar untuk menjaga diri.
Setiba di desa Asfan seorang pengintai Islam mengabarkan bahwa kafir Quraisy telah menyiagakan 200 orang pasukan, dipimpin oleh Khalid bin Walid untuk menghadang Rasulullah dan kaum muslimin. Rasulullah kemudian mengalihkan perjalanan melalui desa Hudaibiyah dan beristirahat disana.
Seorang utusan Rasulullah yang bernama Badil menemui Rasulullah untuk menanyakan maksud dan tujuan kedatangan Rasulullah. Beliau menjelaskan tujuan kedatangan kaum muslimin ke Makkah. Datang lagi utusan yang kedua bernama Haris bin Alqamah, menanyakan hal yang sama, Rasulullah pun menjelaskan seperti pada utusan yang pertama, belum puas dengan penjelasan Rasulullah, maka kafir Quraisy mengutus Urwah bin Maqsud, iapun mendapat jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah mengutus Usman bin Affan, seorang tokoh yang disegani oleh kedua belah pihak untuk meyakinkan maksud dan tujuan kedatangan Rasulullah dan umat Islam.
Terdengar kabar burung tentang terbunuhnya Usman bin Affan. Para sahabat dari Muhajirin dan Anshar segera mengambil baiat dihadapan Rasulullah yang disebut "Baiatur Ridwan", untuk menjaga keselamatan Rsulullah.
Mendengar baiat tersebut hati kafir Quraisy tergetar, sehingga mereka mengutus 50 orang untuk mengintai kegiatan Rasulullah. Satuan penjaga Rasulullah menangkap pimpinan regu pengintai kafir Quraisy serta menawan anggota mereka, maka kafir Quraisy mengirim utusan perdamaian yang dipimpin oleh Suhail bin Amr yang disertai oleh Usman bin Affan.
Dalam perundingan perdamaian terjadilah sebuah perjanjian yang disebut perjanjian Hudaibiyah, yang isinya
1.         Diadakan genjatan senjata selama 10 tahun.
2.         Apabila seorang kafir Quraisy masuk agama Islam tanpa seizin walinya, maka segera dikembalikan kapada kafir Quraisy. Sebaliknya, bila seorang muslim kembali kepada kafir Quraisy tidak dapat dikembalikan kepada Rasulullah.
3.         Dua belah pihak diberi kebebasan untuk mengadakan perjanjian dan persekutuan.
4.         Rasulullah dan para sahabat tidak melaksanakan umrah tahun ini, dan untuk tahun selanjutnya hanya dapat melaksanakan selama tiga hari dan tanpa pakaian perang dan peralatannya.
Perjanjian tersebut ditulis oleh Ali bin Abi Thalib sebanyak dua lembar untuk diserahkan kepada pimpinan kedua belah pihak. Setelah itu Rasulullah menyuruh kaum muslimin untuk mencukur rambut dan memotong hewan sebagai dam lalu kembali ke Mdinah.
F  Fathul Makkah
Fathu Makkah artinya penaklukan kota Makkah. Fathu Makkah ini terjadi pada tahun 8 H, karna orang – orang kafir Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah itu dijadikan alasan bagi Rasulullah untuk menaklukkan kota Makkah.
Dalam penaklukan kota Makkah Rasulullah menyiapkan 10.000 orang, ditengah perjalanan, pasukan Islam bertemu dengan beberapa tokoh kafir Quraisy diantaranya Sufyan bin Al Harits yang menyatakan diri masuk Islam, Abbas bin Abdul Muthalib yang akan hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Rasulullah meminta Abbas kembali ke Makkah sedangkan keluarganya melanjutkan perjalanan ke Madinah.
Sebelum memasuki kota Makkah, Rasulullah dan pasukan Islam mendirikan kemah. Beliau memerintahkan untuk membuat api unggun yang berkobar di sekeliling perkemahan, terlihatlah kobaran api yang seakan – akan membakar kota Makkah, sehingga mencemaskan hati para tokoh kafi Quraisy.
Abu Sufyan menyelidiki perkemahan pasukan Islam, tapi dia tertangkap lalu dihadapkan kepada Rasulullah. Abu Sufyan menyatakan kesalahannya dan ingin berdamai. Rasulullah memberi kepercayaan kepadanya dengan mengatakan bahwa barang siapa yang masuk rumah Abu Sufyan akan mendapat keamanan.
Pasukan Islam dibagi menjadi dua, yaitu pasukan pertama dipimpin oleh Khalid bin Walid menuju Makkah dari bawah melewati desa Ma'al, pasukan ini mendapat perlawanan kecil dan pasukan lainnya dipimpin oleh Rasulillah  menuju Makkah dari atas melewati desa Misfalah yang tidak mendapat hambatan sama sekali.
Sepanjang perjalanan juru bicara Rasulullah meneriakkan : "Barang siapa yang menutup pintu akan aman, barang siapa yang memasuki masjid Al-Haram akan aman dan barang siapa yang masuk rumah Abu Sufyan akan aman.
Pada hari Jum'at tanggal 20 Ramadlan tahun 9 H, Rasulullah memasuki Masdil Haram. Beliau bersujud, berthawaf dan menghancurkan Ka'bah yang sebanyak 360 buah sambil membaca surat Al-Isra' ayat 81. orang orang kafir Quraisy menunggu keputusan Rasulullah terhadap mereka. Rasulullah menyatakan mereka sudah dimerdekakan. Dengan suka ria mereka mendengar keputusan tersebut.
Peristiwa penaklukan kota Makkah diceritakan oleh Allah dalam surat An-Nashr dan Al-Fath  
  
F  Haji Wada'
Pada tanggal 5 Dzulhijjah tahun 10 H/ 622 M, Rasulullah melaksanakan ibadah haji yang disebut  Haji Wada', artinya haji perpisahan, karna haji ini haji yang terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah.
Rombongan haji Rasulullah berangkat dari Madinah sebanyak 100.000. orang. Sebelum berangkat Rasulullah menitipkan kekuasaan kota Madinah kepada Abu Dajjanah Al-Anshari. Rambongan tersebut memakai pakaian Ihram, dan sepanjang perjalanan selalu mengumandangkan Talbiyah.
Setibany di kota Makkah, Rasulullah memasuki Masjidil Haram. Ketika melihat Ka'bah beliau berdo'a :
اللّهُمَّ زِدْهُ شَرَفًاوَتّعْظِيْمًاوَمَهَابَةً وَبِرًّا
Artinya : "Ya Allah tambahkan kemuliaan, keagungan, kemegahan dan kebaikan padanya."
Lalu beliau thawaf mengelilingi Ka'bah, mencium hajar aswad, shalat sunnah di depan makam Ibrahim, meminum air zazam, dan diakhiri dengan sa'i.
Pada tanggal 9 Dzulhijjah, Rasulullah berangkat ke Padang Arafah untuk melaksanakan wuquf. Disini Rasulullah memberi khutbah yang diberi nama Khutbah Wada' dan setelah selesai khutah turunlah wahyu yang terakhir surat Al-Maidah ayat 3, yang berbunyi :
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلاَمَ دِيْنًا
Artinya : " Pada hari ini Aku (Allah) telah sempurnahkan agamamu, Aku cukupkan ni'mat-Ku atasmu dan Aku sudah rela agama Islam itu menjadi agamamu."
Mendengar khutbah ini semua sahabat merasa gembira kecuali sahabat Abu Bakar, ia menangis terseduh – seduh, lalu ditanya oleh seorang sahabat, mengapa ia menangis padahal Allah sudah menyempurnakan agama Islam. abu Bakar menjawab, bahwa ini pertanda Nabi Muhammad akan diambil oleh Allah. Para sahabat yang mendengarnya menjadi sangat sedih.   
Setelah itu beliau melanjutkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu pergi ke Minah melalui Muzdalifah dengan bermalam di sana untuk mengumpulkan batu – batuan yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Mina.
Setibanya di Mina pada pagi hari, Rasulullah melontar Jumrah Aqabah, mencukur rambut dan memotong hewan qurban. Pada tanggal sebelas dan dua belas Dzulhijjah, beliau kembali melontar jumrah, yaitu Jumrah Aqbah, Wustha dan Sughrah. Setelah itu kembali ke kota Makkah untuk melaksanakan thawaf Ifadhah, meka selesailah pelaksanaan haji.

F  Selain dakwah kepada orang – orang Arab Rasulullah juga berdakwah kepada para raja di sekitar jazirah Arab dengan mengirim sepucuk surat antara lain :
·         Kaisar Heraclius, maha raja Romawi. Surat diantar oleh utusan Rasulullah yang dipimpin oleh Dakhiyah bin Khalifah Al Kalby Kharajy.
·         Raja Kisra dari Persia yang diantar oleh Abdullah bin Hudzalifah As Sahamy, tapi setelah ia membaca surat itu, ia menyobek – nyobek surat tersebut. Ketika berita itu sampai di telingah Rasulullah, maka Rasulullah berdo'ah " Semoga Allah merobek – robek kerajaannya dengan sesungguhnya." Dan benar taklama kemudian raja Kisra mati ditangan anaknya yang telah merebut tahtanya.
·         Raja Negus dari Habsyi yang diantar oleh Umar bin Umaiyah Al Dlamary.
·         Muqaiqus, Gub Jen Romawi yang ada di Mesir, yang diantar oleh Khatib bin Abi Balta'ah Al Lakhmy.
·         Hamzah bin Ali Al Hanafy, Amir negeri Yamamah yang diantar oleh Sulaith bin Amr Al Amiry.
·         Al Haris bin Abi Syamr, Amir Ghasan yang diantar oleh Syuja bin Whab.
·         Al Mundzir bin Sawy, Amir Bahrain yang diantar oleh Al Ala bin Al Khadhamy.
·         Dua putra Al Jalandy suratnya yang diantar oleh Amr bin Ash.
  
F  Wafatnya Rasulullah SAW
Penyebaran dakwah Islam ke Negara – Negara disekitar jazirah arab terus dilakukan oleh Rasulullah. Beliau menyiapkan pasukan untuk membebaskan negeri Syamdari penjajahan kerajaan Ramawi yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid, putra Zaid bin Harits yang gugur di Mu'tah.
Seluruh persiapan sudah siap dan pasukan siap untuk berangkat. Tiba – tiba Rasulullah jatuh sakit, beliau demam tinggi sehingga suit tidur, pada malam hari beliau kelusr rumah dengan ditemani oleh pembantunya Abu Muwayba. Rasulullah pergi ke Baqi' Gharqad, pemakaman kaum muslimin di Madinah, di sana beliau berdo'ah untuk orang – orang yeng telah wafat.
Ketika Rasulallah merasa enakan beliau pergi ke Masjid. Diatas mimbar beliau banyak mengucapkan puji syukur kepada Allah. Beliau mendoakan para sahabat yang gugur di medan Uhud. Beliau juga menegaskan agar semua mendukung Usamah untuk melakukan misi yang telah direncanakan. Beliau juga mengatakan " Salah seorang dari hamba Allah diminta memilih antara kehidupan dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sis-Nya"
Mendengar hal itu Abu Bakar menangis dan berkata " Demi ayah dan ibu kami, kami akan membela Tuan." Rasulullah menjawab " Sabarlah Abu Bakar," semua yang ada di Masjid menangis. Kaum Muslimin semakin sedih. Setelah suara tangis mereda, beliau melanjutkan ucapannya " Wahai manusia, saya dengar kamu merasa cemas jika nabimu meninggal. Adakah seorang Nabi yang hidup selamanya? Aku pun ingin seperti itu, tetapi aku akan menghadap Allah dan kalian pasti akan menyusul."   
Kondisi kesehatan Rasulullah semakin bertambah parah, ketika demam beliau menurun. Beliau ke masjid dengan di papah oleh Ali bin Abu Thalib dan Al Fadal bin Abbas. Abu Bakar yang tengah menjadi imam menyisih untuk memberi tempat pada Rasulullah. Namun, beliau mendorong Abu Bakar untuk terus menjadi Imama. Beliau Shalat sambil duduk disebelah kanan Abu Bakar.
Pada tanggal 11 rabiul awwal tahun 11 H/7 Juni tahun 632 M. ketika para sahabat melaksanakan shalat subuh diimami oleh Abu Bakar, Rasulullah menampakkan diri dari kamar Aisyah sambil tersenyum. Sahabat Abu Bakar mundur dan para Sahabat merentangkan barisan mempersilakan Rasulullah, namun Rasulullah mengisyaratkan agar mereka melanjutkan shalatnya. Beliau kembali masuk ke kamar Aisyah.
Pada tanggal 12 rabiul Awwal 11 H/8 Juni 632 M. semua istri Rasulullah berdatangan begitu juga para sahabat Muhajirin dan anshar. Kebisuhan mencekam seluruh ruangan, tiba – tiba bibir Rasulullah tampak bergetar dan meluncurlah kalimat, " Ya, keharibaan Yang Maha Tinggi … ." dan Rasulullah pun wafat.
Kabar meninggalnya Rasulullah mengguncang kaum muslimin Madinah. Umar bin Khattab marah apabila mendengar ada orang yang mengatakan Rasulullah telah wafat. Untuk menenangkan mereka Abu Bakar berpidato dihadapan mereka : "Wahai manusia! Barang siapa yang memuja Muhammad, Muhammad telah mati, tetapi siapa yang memuja Tuhan, Tuhan hidup selama – lamanya," kemudian Abu Bakar membacakan surat Ali Imran ayat 144 :
وَمَامُحَمَّدٍ إِلاَّرَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْقُتِلَ انْفَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَنْضُرَاللهَ شَيْئًاوَسَيَجْزِيْ اللهُ الشَّاكِرِيْنَز
Artinya : "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan pada orang – orang yang bersyukur." (Ali Imran ayat 144)   
Mendengar pidato Abu Bakar tersebut, maka mereka semua mulai tenang dan dapat menerima kepergian Rasulullah SAW. Untuk menghadap Allah selamanya.





ô  KHULAFA AR- ROSYIDDIN
Khulafa'ur Rasyiddin artinya pemimpin yang diberi petunjuk yaitu para pemimpin Islam yang menggantikan Rasulullah sebagai kepala Negara dan pemimpin umat Islam. Adapun orang – orang diakui sebagai  khulafaurrasyidin antara lain :

¹  Kholifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar As-Shiddiq adalah putra pasangan suku Quraisy, yaitu Abu Quhafah dan Ummu Khoir Salamah. Nama lengkap Abu Bakar adalah Abdullah bin Abu Quhafah bin Amir bin Amr bin Saad bin Tamim bin Murrah bin Kaab. Jadi silsilah Abu Bakar dan Nabi Muhammad bertemu pada kakeknya yang bernama Murrah bin Kaab.
Nama Abu Bakar itu pemberian Rasulullah , karna ia orang yang segera masuk Islam setelah diajak oleh Nabi Muhammad. Sebelum masuk Islam Abu Bakar adaah seorang pedagang yang sukses dan terkenal dengan kejujurannya dan kedermawanannya.
Setelah beliau masu Islam, banyak tokoh – tokoh Quaisy yang masuk Islam karma ajakan Abu Bakar, antara lain : Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas'ud, Sa'ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Jarrah dan Al Arqam bin Abil Arqam.
Setelah Rsulullah wafat, timbul perselisihan antara kaum Anshar dan kaum Mujirin, tentang siapa yang berhak menggantikan Rasulullah sebagai pemimpin Negara dan umat Islam, hal ini karma Rasulullah tidak meninggalkan pesan apapun tentang siapa pengganti beliau.
Saat kaum Muhajirin sibuk memepersiapkan pemakaman Rasululah, kaum Anshar berupayah memilih pengganti Rsulullah dari golongan Anshar. Mereka bermusyawarah di Tsaqifah bani Saidah yaitu tempat siding dan tempat Musyawarah keluarga besar suku Khazraj. Ketika kaum Muhajirin mendengar hal itu, mereka mengutus tiga tokoh Muhajirin yaitu : Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah, untuk menghadiri persidangan tersebut.
Terjadi perdebatan antara tokoh – tokoh kedua belah pihak antara lain Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidan bin Jarrah dari Muhajirin. Sedang dari Anshar adalah Saad Ibnu Ubadah, Hubab bin Mundzir dan Basyir bun Saad, ketika pembicaraan belum ada tanda – tanda mencapai titik temu, Abu Ubaidah bin Jarrah maju kedepan dan berkata : "Sahabat – sahabatku dari kalangan Anshar! Kalian adalah pihak yang pertama kali menyokong dan membantu. Janganlah kamu menjadi pihak yang pertama kali berubah dan berganti pendirian."
Kemudian Basyir ibnu Saad maju pula kedepan dan berkata : "Bukankah Muhammad itu dari suku besar Quraisy. Justru kaumnya lebih berhak dan layak memegang pimpinan. Demi Allah, saya sendiri tidak akan membantahnya dalam persoalan itu. Marilah kita bersama – sama bertaqwa kepada Allah. Janganlah kita saling berbanta dan bertengkar."
Suasana yang tegang kembali mencair dan semua pemimpin sidang merasa puas. Keadaan yang segar ini dimanfaatkan oleh Abu Bakar untuk maju kedepan, iapun berkata: "Marilah kita semua kini memusatkan perhatian kepada dua tokoh dan silakan pilih, yaitu Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Pada saat itulah Basyir ibnu Saad dan Abu Ubaidah bin Jarrah dengan sikap spontan berteriak: "Mana mungkin hal itu! Demi Allah, kami tidak akan menyerahkan pimpinan kecuali kepadamu. Engkau adalah tokoh termulia dalam kalangan Muhajirin dan Tsaniu Itsnain di dalam gua bersama Rasulullah, dan pengganti Rasulullah didalam imam shalat. Shalat itu sendi agama paling utama. Lantas, siapakah yang lebih layak dari padamu? Silakan ulurkan tanganmu dan kami akan mengangkat bai'at terhadapmu."
Keduanya maju ke depan Abu Bakar, menjabat tangannya dan mengucapkan bai'at, disusul oleh Umar bin Khattabdan diikuti olah tokoh – tokoh Anshar lainnya.
Menjelang shalat isya', setelah selesai pemakaman Rasulullah, Abu Bakar naik keatas mimbar dan berkhutnah untuk yang pertama kali setelah diangkat sebagai kahalifah.
F   Menghadapi Gerakan Riddah (Pindah Agama)
Berita wafatnya Rasulullah sudah menyebar ke seluruh jazirah Arab. Banyak kabilah – kabilah Arab memanfaatkan wafatnya Rasulullah untuk lari dari agama Islam. Mereka yang membelot dari agama Islam adalah daerah – daerah yang jauh dari Madinah, antara dari Yaman, Oman, Bahrain Hadramaut dan Mahra.
Untuk memberasan gerakan Riddah, maka khalifah Abu Bakar menyiapkan 11 pasukan yang dipimpin oleh :
1.         Panglima Khalid bin Walid
Khalid bin Walid bertugas menghadapi Thulaikhah bin Khuwailid Al Asadi, sebelum masuk Islam Thulaihah adalah seorang dukun sihir. Saat terdengar khabar sakitnya Nabi Muhammad, Thulaihah memproklamirkan dirinya sebagai Nabi. Ajarannya menghapus kewajiban Zakat.
Dilingkungan masyarakat awwam suku besar Asad, Thai Fezarah dan Ghatfan, ajaran Nabi palsu mendapak sambutan yang sangat baik. Thulaihah dan pengawalnya datang ke Madinah untuk menemui Khalifah Abu Bakar dan meminta Khalifah Abu Bakar untuk mengakui kenabiannya.
Khalifah Abu Bakar menolak dengan keras, karna Rasulullah adalah nabi yang paling akhir dan syariat yang diwariskan tidak bisa ditawar – tawar lagi. Walaupun pada saat itu kota Madinah kosong karena sebagian besar pasukan muslim sedang bertugas di luar.
Dengan kecewa Thulaiha dan pengawalnya meninggalkan kota Madinah dan mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Madinah. Khalifah Abu Bakar mengetahui rencana Thulaihah, kemudian beliau menyiapkan pasukan untuk melakukan penyerangan mendadak.
Menjelang fajar pasukan muslim bergerak ke kemah pasukan Thulaihah. Pasukan Thulaikhah porak-poranda, Thulaihah melarikan diri dan minta bantuan bani Ghatfan, Murra dan Fezara. Panglima Khalid ibnu Walid terus mengejar Thulaiha sehingga terjadi pertempuran yang menghancurkan pasukan Thulaihah. Thulaihah dan istrinya melarikan diri ke Syiria.
Setelah kemenangan pasukan Islam, suku besar Ghatfan, Murra dan Fezara kembali memeluk agama Islam dan Thulaihah pun dikabarkan memeluk agama Islam kembali. Setelah selesai  pasukan Khalid bin Walid maju menghadapi Malik bin Nuwairah dalam wilayah tengah bernama Al Battah

2.     Panglima Ikrima bin Hisyam
Ikrimah bin Amru bin Hisyam, bertugas mengahadapi Musailamah Al-Kadzdzab dalam wilayah bani Hanifah pada pesisir timur Arabia di Yaman dan dibantu pasukan cadangan yang dipimpin oleh panglimah Surabil ibnu Hasanah.
Musailamah Al Kadzdzab, mengaku dirinya sebagai nabi dan rasul. Ia seorang tokoh cendekiawan dan terpandang dalam suku besar bani Hanifah, untuk memperkuat barisannya Musailamah menikahi Sajjah binti Al Harits ibnu Suwaid ibnu Aqfan, seorang wanita dari suku Tamim yang juga mengaku menjadi nabi.  Jumlah pasukan Musailamah sebanyak  40.000 orang.
Karna pasukan Musailamah yang cukup besar, maka Khalifah Abu Bakar memerintahkan panglima Khalid bin Walid untuk  mebantu dan menunjuknya sebaga panglima besar. Hampir saja pasukan Islam mengalami kekalahan. Panglima Khalid ibnu Walid menerapkan taktik mundur. Melihat pasukan Islam mundur, pasukan Musailamah menyerbu perkemahan pasukan Islam dan mencari harta yang ditinggalkan. Pada saat itulah pasukan muslim menyerang pasukan Musailamah hingga hancur dan Musailamah melarikan diri ke Al Hadikat (taman) yang dikelilingi pagar tembok.
Panglima Khalid ibnu Walid mengizinkan Al Barrak untuk menaiki tembok, kemudian Al Barrak membuka pintu gerbang untuk pasukan Islam dan pasukan Islam berhasil menghancurkan sisa – sisa pasukan Musailamah dan Musailamah pun tewas ditangan Wahsyi.

3.     Panglima Muhajir bin Abi Umayyah
Muhajir bin Abi Umayyah bertugas menghadapi sisa – sisa pasukan Aswad Al Insa dan membantu kaum peranakan (Al Abnak) menghadapi Kais ibnu Maksyuh, setelah itu maju kedalam wilayah Kinda dan Hadramaut.

4.     Panglima Khalid bin Said
khalid bin Said bertugas menghadapi suku – suku besar bangsa arab dalam wilayah tengah bagian utara, sampai perbatasan Syiria dan Irak.


5.     Panglima Amru bin Ash
Amru bin Ash bertugas menghadapi suku besar Qudha'ah dan suku besar Wadhi'ah dalam wilayah utara bagian barat laut.

6.     Panglima Hudzaifah bin Muhsin Al Ghalfani
Hudzaifah bin Muhsin Al Ghalfani bertugas menghadapi penduduk wilayah Daba pada pesisir tenggara Arabiah.



7.     Panglima Arfajah bin Hartsamah
Arfajah bin Hartsamah bertugas menghadapi gerakan Riddah dalam wilayah Mahran dan Oman pada pesisir selatan Arabiyah.

8.     Panglima Surabil ibn Hasanah
Surabil ibn Hasanah mengikuti jejak panglima Ikrimah bin Hisyam, sebagai pasukan cadangan

9.     Panglima Maan ibn Hajiz
Maan ibn Hajiz bertugas menghadapi suku besar Salim dan Hawazin di wilayah sekitar Thaif.

10.  Panglima Suwaid ibn Muqarram
Suwaid ibn Muqarram bertugas menghadapi kaum Riddah di wilayah Tihamah sepanjang pesisir laut merah.

11.  Panglima Allak ibn Muqarram
Allak ibn Muqarram bertugas menghadapi kaum Riddah dalam wilayah Bahrain.

F    Melanjutkan pengiriman pasukan Utsamah bin Zaid.
Menjelang wafat Rasulullah membentuk pasukan untuk menuju perbatasan Syiria yang dipimpin oleh Utsamah bin Zaid yang baru berusia 20 tahun, tapi tidak jadi karna tiba – tiba Rsulullah jatuh sakit dan akhirnya wafat.  
Setelah Abu Bakar menjadi khalifah, Abu Bakar meneruskan perintah Rasulullah yaitu mengirim pasukan Usama bin Zaid untuk menutut balas atas pembunuhan utusan Rasulullah yang mengirimkan surat untuk raja Ghasan.
Pasukan Utsamah berangkat pada hari Rabo sore, tanggal 14 Rabiul Awwal 11 Hijriyah menuju Jufra. Tempat yang pertama dituju oleh panglima Utsamah adalah Mu'tah, yaitu suatu tempat yang pernah menjadi ajang pertempuran antara kaum muslimin yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsa (ayah Utsamah) dengan pasukan Romawi dan dalam pertempuran tersebut Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib dan Abullah bin Rawahah gugur.  
Selama kurang lebih 40 hari, pasukan Utsamah berhasil menghancurkan dan menghalau pasukan musuh. Setelah itu Utsamah dan pasukannya kembali ke Madinah dengan membawa harta rampasan yang banyak dan tak satupun pasukannya mengalami cidera. 

F    Perluasan wilayah
·               Menghadapi imperium Persia
Kerajaan Persia adalah kerajaan yang besar dan kuat, kerajaan Persi berada di sepanjang lembah Mesopotamia
Untuk menghadapi imperium Persia Khalifah Abu Bakar pertama mengirim pasukan yang dipimpin oleh panglima Mutsannah bin Haritsah dengan membawa 8000 pasukan tempur. Pada bulan Muharram 12 H. pasukan Mutsannah dapat menguasai Bandar Al Qatif. Ketika akan memasuki Kuwait, pasukan Mutsannah mendapat perlawanan yang sengit. Karena itu panglima Mutsannah melapor ke Madinah.
Khalifah Abu Bakar segera memerintahkan panglima Khalid Ibn Walid yang masih berada di wilayah Yamamah untuk membantu pasukan Mutsannah. Panglima Khalid bin Walid berangkat dengan membawa 10.000 pasukan tempur.
Kedua pasukan Islam bergabung dan berhasil merebut Bandar tua Ubulla yang dipertahankan oleh pasukan Persia yang dipimpin oleh panglima Harmaz yang dibantu oleh panglima Kavadh dan Anu Shajad.
Selain itu khalifah Abu Bakar juga menunjuk panglima Iyyadh untuk merebut kota benteng Dumatil Jindal dalam wilayah Nufud, yang terletak antara lembah Euphrate dengan Teluk Akabah pada belahan Utara laut Merah. Tujuan terakhir adalah menguasai kerajaan Hira.
Panglima Iyyadh setelah mendapat bantuan dari panglima Khalid bin Walid, berhasil merebut benteng Dumatil Jindal dan kota Hira.  
·               Menghadapi imperium Ramawi
Kerajaan Ramawi Timur yang beribu kota di Bizantium.
Pada awal tahun 13 H/634 M. Khalifah Abu Bakar membentuk empat komandan pasukan besar antara lain :
    Panglima Amr bin Ash, memimpin pasukan dengan tujuan Bandar Aila dan teluk Akabah, kemudian maju ke Palestina
    Panglima Syarhabil ibn Hassana, memimpin pasukan dengan tujuan merebut kota benteng Tabuk, kemudian maju ke Yordania.
    Panglima Yazid ibn Abi Sufyan, memimpin pasukan dengan tujuan Damaskus, kemudian maju ke Syiria selatan.
    Panglima Abu Ubaidah ibn Jarrah, memimpin pasukan dengan tujuan kota benteng Homs, kemudian maju ke Syiria utara dan ibo kota Antiokia.
Ketika pasukan muslimin dapat memukul mundur pasukan Romawi dan dapat memasuki wilayah Palestina, Yordania dan Syiria. Kaisar Heraclius yang berada di Yerussalem bergegas pergi ke Damaskus dan menyiapkan pasukan yang berkekuatan 240.000 orang, panglima besar yang ditunjuk adalah Theodore saudara Heraclius sendiri.
Beriat tentang pasukan Romawi mengkhawatirkan pasukan Islam sehingga panglima Amr bin Ash mengusulkan kepada panglima Abu Ubaidah agar pasukan disatukan. Usul ini disampaikan kepada khalifah Abu Bakar dan diterima.
Selanjutnya khalifah Abu Bakar memerintahkan pada panglima Khalid ibn Walid yang berada di lembah Mesopotamia untuk berangkat ke Syiria dan sekaligus mengangkat Khalid bin Walid sebagai panglima besar dari keempat pasukan tersebut selain itu khalifah menetapkan daerah Yarmuk sebagai benteng pasukan Islam, karna letaknya sangat strategis yaitu lembah Yarmuk dikelilingi bukit – bukit yang berbentuk bulan sabit dan dialiri sebuah anak sungai yang berhulu dari dataran tinggi Hauran (Syiria) dan bermuara pada danau Tiberias, terletak dibagian tenggara kota Busra (Syiria) .
Jumlah pasukan muslim menjadi 39000 orang, terdiri dari 24.000 dari keempat pasukan, 9000 pasukan panglima Khalid bin Walid dan 6000 pasukan Ikrimah.
Untuk menghadapi pasukan Romawi, pasukan Islam dibagi menjadi 40 regu pasukan yang terbagi menjadi tiga sayap yaitu sayap tengah dipimpin oleh panglima Abu Ubaidah bin Jarrah, sayap kanan dipimpin oleh panglima Amru bin Ash dan sayap kiri dipimpin oleh panglima Yazid bin Abi Sufyan dan juga satu regu pasukan cadangan yang dipimpin oleh panglima Ikrimah ibn Amru.    
Sebelum genderang perang dibunyikan, terlebih dahulu terjadi perang tanding antara panglima Khalid bin Walid dan panglima Gergorius Teodorus. Pada saat perang tanding tersebut terjadilah percakapan diantara mereka, Gergorius menanyakan hal-hal tentang agama Islam yang dijawab oleh Khalid bin Walid dengan sangat memuaskan. Akhirnya panglima Gergorius masuk Islam dan  bahu – membahu dengan panglima Khalid bin Walid dalam pertempuran di Yarmuk melawan pasukan Romawi dan panglima Gergorius tewas dalam pertempuran di Yarmuk.
Pada bulan Jumadil Akhir tahun 13 H atau bulan Agustus 634 M, datang utusan yang membawa berita dari Madinah yang mengatakan bahwa Khalifah Abu Bakar telah wafat dan digantikan oleh Umar bin Khattab dan utusan itu juga memberikan surat pemecatan kholid bin Walid sebaga panglima perang Islam dan digantikan oleh Abu Ubaidah. 
Saat ditanya soal pemecatannya Kholid bin Walid berkata : "Saya berjihat bukan karena Umar, akan tetapi karena Allah".   

¹  Kholifah Umar bin Khotthob
ô   Umar bin Khattab
Umar bin khattab adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bi Rabbah bin Abdullah bin Qurt bin Razzah bin Ka'ab bin Laui, garis keturunannya bertemu dengan garis keturunan rasulullah pada kakeknya yang bernama Ka;ab bin luai.
Umar bin Khattab berasal dari keluarga bani Adiy dari suku Quraisy, Umar bin Khattab terkenal sebagai seorang yang pemberani, gagah, tegas, cerdas dan punya pengetahuan yang luas.
Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab merupakan musuh utama kaum muslimin. Dia tidak segan – segan  menyiksa keluarganya sendiri yang ketahuan memeluk agama Islam.
Suatu saat kebencian Umar bin Khattab telah memuncak terhadap agama Islam dan Rasulullah SAW. Sudah sangat memuncak, Umar berniat mendatangi Rasulullah dan membunuhnya. Diperjalanan Umar bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah " Hendak kemana kamu, wahai Umar?" tanya Nu'aim, " Aku akan membunuh Muhammad", jawab Umar. Nu'aim bertanya lagi " Kamu ingin membunuh Muhammad atau memadamkan ajarannya? Kalau kamu mau membunuh Muhammad, maka Bani Hasyim akan menuntut balas, tapi kalau mau memadamkan ajarannya, bereskan dulu keluargamu". "mengapa dengan keluargaku", tanya Umar. "Adikmu Fatimah dan suaminya, Said bin Zaid telah mengikuti ajaran Muhammad", jawab Nu'aim.
Mendengar jawaban itu, meledaklah amarah umar dan langsung menuju rumah Fatimah. Tatkala hampir sampai dirumah Fatimah, terdengar sayup – sayup suara seseorang sedang membaca Al-Qur'an. Di dalam rumah, Habab bin Arts sedang mengajarkan Al-Qr'an kepada Fatimah dan Said.
Tanpa mengetuk pintu lagi, Umar langsung masuk ke dalam, suasana menjadi tegang. Umar langsung bertanya " Syair apa yang baru kudengar tadi?" Aku sudah dengar kalian telah mengikuti ajaran Muhammad" Umarpun menyergap Said, tapi dihadang oleh Fatimah. Akibatnya, Fatimah mendapat tamparan keras dari Umar. Muka Fatimah bercucuran darah akibat tamparan Umar. Tetapi Fatimah tetap tegar, dan dengan tegas ia menjawab " Benar, kami sudah masuk Islam, sudah mengimani Allah dan Muhammad Rasulullah. Sekarang berbuatlah sesuka hatimu terhadap kami".
Mendengar ketegasan adiknya sambil melihat darah yang mengucur dari muka Fatimah, hati Umar luluh. Ditanyanya Fatimah "Tolong berikan syair yang telah kalian baca tadi, agar aku dapat mempertimbangkan apa yang telah diajarkan Muhamma kepadamu!" Fatimah menjawab "Ini bukan syair, ini Kalamullah. Karena kamu baru bisa menyentuh maknahnya jika kamu dalam keadan suci." Umar pun pergi mencuci dirinya, Fatimah memberikan lembaran Al-Qur'an kepada Umar. Kemudian Umar membacanya (surat Thaha ayat 1 –  8) dan tanpa terasa air matanya menetes dan berucap "Sungguh alangkah indahnya dan mulianya yang kalian pelajari ini."
Setelah itu Umar bin Khattab bergegas menemui Rasulullah untuk menyatakan keislamannya dan menjadi orang yang paling gigih membela Rasulullah.   
Sewaktu Khalifah Abu Bakar masih terbaring sakit, beliau memanggil beberapa tokoh terkemuka dari kalangan Anshar dan Muhajirin. Khalifah Abu Bakar menanyakan pada mereka siapa yang pantas untuk menggantikan beliau setelah ia meninggal nanti dan beberapa shahabat diantaranya Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan dan Thalha ibn Ubaidillah, Thalha menyarankan agar Khalifah menanyakan kepada orang banyak. Usul itu diterima, Khalifah mengundang orang banyak dan menanyakan kepada kaum muslimin yang hadir dan berkata: " Sudilah memberikan pendapat kamu semua mengenai orang yang yang akan kutunjuk untuk penggantiku. Demi Allah, penunjukanku itu tanpa memikirkannya sungguh – sungguh dan bukan pula aku menunjuk lingkungan keluargaku. Aku menunjukkan penggantiku itu Umar bin Khattab. Sudilah menerimanya dan mematuhinya." Kaum muslimin yang mendengar langsung menjawab: "Sami'na wa atha'na", artinya: kami dengar dan kami patuhi. Setelah itu Khalifah Abu Bakar memerintahkan Usman bin Affan untuk menulis pengangkatan Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diatas selembar kertas. 
ô   Usaha perluasan wilayah Islam
F   Kelanjutan perang Yarmuk
Sebelumnya telah diterangkan bahwa Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah saat terjadi perang yarmuk. Setelah panglima Georgeus masuk Islam dan menjadi suhadak, pasukan Romawi dipimpin oleh panglima Theodore. Dalam pertempuran pasukan muslim dibagi menjadi:
a.     Sayap kanan dipimpin oleh Amru bin Ash dan Surahil ibn Hassanah
b.    Sayap kiri dipimpin oleh Yazid bin Abi Sufyan dan Muawiyah bin Abi Sufyan
c.     Sayap tengah dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrah, Ikrima bin Amru, Al Harits bin Hasyim dan Dharar bin Azrur Alfihri
d.    Sayap cadangan dipimpin oleh Kika bin Amru Al Tamimi
e.     Perbekalan dipimpin oleh Abdullah bin Mas'ud
f.     Pengawasan dipimpin oleh Qubaits bin Asyim
Terjadilah pertempuran yang sengit. Pasukan muslim menggerakkan pasukan sayap tengah yang terdiri dari pasukan berkuda pimpinan Abu Ubaidah bin Jarrah, pasukan ini menerobos barisan pasukan Romawi dan mengobrak abriknya.
Panglima Khalid bin Walid keluar dari perkemahnya dan maju ke medan perang. Pasukan Romawi yang sudah kacau akibat desakan pasukan muslim sayap tengah, bertambah kacau setelah sayap kanan, sayap kiri dan sayap cadangan ikut menyerbu. Panglima pasukan Romawi Theodore tewas dalam pertempuran itu dan digantikan oleh panglima Vetarsius.
Panglima Vetarsius memerintahkan pasukannya untuk mudur. Panglima Khalid bin Walid pun memerintahkan pasukan muslim mundur sampai garis pertahanan, sambil mengobati pasukan yang luka.
Ke esokan harinya, terjadi pertempuran yang sangat dahsyat. Seluruh pasukan Romawi dikerahkan. Begitu juga dengan pasukan muslim dengan gagah berani dan bertekat kuat untuk memenangkan pertempuran dan akhirnya pasukan Romawi yang besar itu dapat dihancurkan
Korban dari pihak pasukan muslim kurang lebih 3000 orang. Termasuk beberapa shahabat yang ternama antara lain : Ikrima bin Amru dan putranya, Ibban bin Said, Salma bin Hisyam, Amru bin Said, Jundub bin Amru, Thufail bin Amru dan Hisyam bin Ash.
    
F   Menaklukkan kota Damaskus
Setelah perang Yarmuk, pasukan muslim untuk beberapa lama beristirahat disana.
Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan pasukan muslim untuk menyerang ibu kota Damaskus, tempat kedudukan raja – raja Ghasan. Kota Damaskus dikelilingi dinding tembok yang kokoh. Oleh karena itu, untuk merebutnya terpaksa pasukan muslim mengepungnya selama 70 hari.
Pengepungan dilakukan dari segala penjuru. Panglima Amru bin Ash dengan pasukannya mengepung gerbang Paradise. Panglima Surahbil ibnu Hassanah mengepung gerbang Tomas. Panglima Kais bin Hubairt mengepung gerbang busur panah (Al-Furuj). Panglima besar Abu Ubaidah mengepung gerbang Al Jabiat. Panglima Khalid bin Walid mengepung gerbang Al Syarqi, yakni gerbang terpenting bagi lalu lintas dengan kota Homs dan dengan Palmyra (Tadmur) 
Kaisar Heraclius yang mencoba memberikan bantuannya kepada kerajaan Ghassan, tidak berhasil menembus blokade pasukan muslim. Bantuan yang datang dari Syiria Utara dicegat oleh pasukan muslim yang dipimpin oleh panglima Zul Kilak. Sedangkan panglima Basyir yang bertahan di Yarmuk mencegat setiap bala bantuan yang datang dari arah Palestina. Praktis kota Damaskus terjepit dari segala arah.
Panglima besar Abu Ubaidah dengan pasukannya berhasil mendobrak gerbang kota Damaskus. Terjadilah pertempuran yang cukup sengit, pasukan Romawi yang membantu kerajaan Ghassan yang dipimpin oleh Panglima Vartanius melarikan diri ke kota Homs. Raja Ghassan (Jabala VI), melihat pasukannya semakin terjepit, menaikkan bendera putih, minta berdamai dan kota Damaskus diserahkan kepada kaum muslimin.
 Berita kemenangan pasukan muslim dalam merebut kota Damaskus disambut oleh khalifah Umar bin Khattab dan penduduk Madinah dengan melaksanakan shalat syukur di dalam Masjid Nabawi.
  
F   Menaklukkan wilayah Syiria Utara
Berita – berita tentang kemenangan pasukan Islam di dataran tinggi Syiria dan dataran tinggi Palestina, tersebar luas pada bandar – bandar dagang sepanjang pesisir Levantine diajukan tiga syarat oleh pasukan muslim. Pertama, memeluk agama Islam dan dikenakan kewajiban zakat. Kedua, menyatakan tunduk kepda kekuasaan Islam dan dikenakan kewjiban Jizya, yaitu sejenis pajak yang jauh lebih ringan daripada beban pajak yang dikenakan kekuasaan Romawi dan ketiga, perang.
Umumnya sebagian penduduk merasa senang dengan penguasa muslim karena menampilkan sikap yang simpatik. Banyak pula yang akhirnya berbondong – bondong memeluk agama Islam.
Sementara itu pasukan Islam beserta para panglimanya terus bergerak kearah wilaya syiria Utara. Tanpa banyak mendapat pelawanan yang berarti, seluruh wilayah Syiria Utara seperti bandar Sidom, kota Emessa, kota benteng Aleppo,bandar Bairut, bandar Tarabulus (Tripoli), bandar Banias, bandar Jabil, bandar Latakia dan kota Antiokia, semuanya ditaklukkan antara tahun 15 H/636 M – 16 H/637 M.    
  
F   Menguasai kota suci Jerussalim (Baitul Maqdis : 16 H/637 M)
Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan kepada Panglima besar Abu Ubaidah, Panglima Khalid bin Walid dan panglima Muawiyah agar berangkat ke selatan menuju kota suci Jerussalim.
Kota Jerussalim atau Baitul Muqoddas merupakan kota suci bagi kaum muslimin. Saat pertama umat Islam diwajibkan shalat, kiblatnya adalah Baitul Muqodd, kemudian Allah memerintahkan ke Ka'bah. Begitu juga Rasulullah dalam perjalanan Isra' Mi'raj, sebelum bertolak ke langit dan Sidratul Muntaha, singgah dulu ke Baitul Maqdis.
Kota jerussalim dikepung sepanjang musim dingin. Kota Jerussalem berada dibawah kekuasaan Romawi. Panglima Romawi Timur, Artavon bertekad untuk mempertahankan kota Jerussalem. Sementara penduduk Jerussalem, termasuk Uskup Agung Sophronius lebih suka berdamai. Apalagi selama ini penduduk Jerussalem nerasa tertekan dibawah kekuasaan Romawi. Akhirnya, Panglima Artavon tidak kuasa menahan pasukan muslim yang terus malancarkan pengepungan dan serangan, ia pun mengibarkan bendera putih dan mengajukan syarat bagi penyerahan kota Jerussalem.   
Syarat penyerahan itu pertama, dilakukan genjatan senjata. Kedua, kota Jerussalem hanya akan diserahkan kepada penguasa tertinggi dari pihak Islam, yakni Khalifah Umar bin Khattab. Ketiga, sisa pasukan Romawi diizinkan berangkat dengan damai menuju Mesir.
Panglima Besar Abu Ubaidah kemudian berunding dengan Panglima lainnya membahas persyaratan tersebut. Disepakati untuk mengirim utusan ke Madinah dan menyampaikannya kepada Khalifah Umar bin Khattab. Beliau setuju dan bersedia menerima penyerahan kota suci Jerussalem.
Khalifah Umar bin Khattab berangkat menuju kota suci Jerussalem, hanya dikawal oleh seorang hamba sahaya yang telah dimerdekakannya. Beliau tidak bersedia dengan pasukan, itulah kesederhanaan Khalifah Umar bin Khattab. Pembesar  Jerussalem dan penduduknya terkejut dan kagum akan kesederhanaan pemimpin tertinggi umat Islam yang bergelar Amirul Mu'minin itu.
Penyerahan kota suci Jerussalem berjalan damai, Khalifah Umar beserta para Panglima Islam dan pasukannyadi sambut dengan gembira oleh penduduk Jerussalem.
Setelah itu Khalifah Umar beserta rombongan mengunjungi tempat – tempat yang dipandang suci antara lain: dataran Zion dan tempat reruntuhan Baitullah yang dibangun Nabi Sulaiman (973 – 933 SM) dengan ditemani oleh Uskup Agung Sophronius dan para uskup lainnya.
Jerussalem ditetapkan sebagai ibu kota Palestina dan sebagai penguasanya ditunjuk Panglima Amru bin Ash. Sedang Panglima Khalid bin Walid mengepalai wilayah Syiria Utara dan berkedudukan di Emessa (Homs).   
       
F   Melanjutkan penyerangan ke Persia
Wilayah Persia (Iran) belum sepenuhnya dikuasai oleh pasukan muslim, penyeranganterhenti ketika khalifah Abu Bakar Wafat. Setelah Umar menjadi Khalifah, penyerangan ke Persia dilanjutkan lagi.
Khalifah Umar bin Khattab mengirim Panglima Abu Ubaidah untuk memimpin penyerangan ke Persia, dan dibantu oleh Panglima Saad bin Abi Waqash.peperangan pertama terjadi pada tahun 15 H/635 M yang dapat dimenangkan oleh pasukan muslim, akan tetapi Panglima Abu Ubaidah gugur sebagai syuhada' dalam pertempuran tersebut.
Panglima Saad bin Abi Waqas terus bergerak ke Qadasiyah, sebelum penyerbuan dilakukan, Panglima Saad bin Abi Waqas mengirim utusan kepada raja Persia yang bernama Kisra Yazdajir agar mau menerima ajaran Islam atau membayar jizya.
Surat Panglima Saad ditolak oleh raja Kisra, bahkan raja Kisra telah menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Panglima Rustam untuk menghadapi pasukan muslim, sehingga terjadi pertempuran yang dahsyat dan Panglima Rustam tewas dalam pertempuran tersebut.
 Sisa – sisa pasukan persia yang selamat melarikan diri ke kota Madain. Pasukan muslim terus mengejar dan mengepung kota Madain selama 2 tahun dan raja Kisra pun melarikan diri ke Turki. Akhirnya kota Madain berhasil direbut oleh pasukan muslim dan istana raja Kisra dijadikan sebuah Masjid. Khalifah Umar bin Khattab kemudian mengangkat Panglima Saad bin abi waqash sebagai Gubernur Persia, dengan pusat pemerintahannya di Kufah dan Basrah.

F   Menaklukkan Mesir
Panglima Amru bin Ash yang berada di Jerussalem, memohon kepada Khalifah Umar bin Khattab agar diizinkan menaklukkan Mesir yang saat itu dikuasai oleh kekaisaran Romawi Timur dan penguasanya bernama Mukaukis.
Setelah mendapat izin dari Khalifah, Panglima Amru bin Ash beserta pasukannya berangkat menuju Mesir. Daerah pertama yang dapat diduduki oleh pasukan Islam adalah bandar Pelusium pada bulan Muharram 19 H/640 M. Pasukan muslim setelah berhasil menghancurkan pasukan Romawi dan berhasil menduduki kota Heliopolis, terus melakukan pengepungan terhadap benteng Babilon.
Menyaksikan tekad tentara muslim yang mengepung benteng Babilon, terjadi perselisihan antara Mokaukis dan Patrick Theodorus (penguasa Romawi) yang akhirnya disepakati untuk diadakan pembicaraan dengan pasukan muslim.
Panglima Amru bin Ash mengirimkan utusan yang berjumlah 10 orang, dibawah pimpinan Ubadah bin Shamit. Pasukan muslim mengajukan tiga syarat yaitu:
1.     Memeluk agama Islam dan terjamin hak milik dan nyawanya serta memperoleh persamaan derajat.
2.     Menyerah dengan damai dan membayar Jizya (pajak) dan terjamin hak milik serta nyawanya.
3.     Meneruskan perang dan harus memikul akibat yang ditimbulkan oleh perang tersebut. 
Perundingan gagal, Mokaukis dan Patrick menolak syarat yang diajukan oleh Panglima Amru bin Ash.
Pada penghujung bulan Rabiul Awwal 21 H/akhir Maret 641 M, dilakukan penyerbuan besar – besaran terhadap benteng Babilon. Zubair bin Awwam dengan pasukan kecil berhasil membuka gerbang tembok dan pasukan muslim pun menyerbu kedalam dan menghancurkan pasukan Romawi. Korban dari pasukan Romawi berjumlah 12.300 orang, sedangkan Patrick Theodorus berhasil melarikan diri. Benteng babilon sepenuhnya menjadi kekusaan Islam.   

F   Merebut Bandar Alexandria
Setelah menguasai benteng Babilon Panglima Amru bin Ash bergerak menuj bandar Iskandaria (Alexandria) yang merupakan kota pelabuhan yang paling ramai di Mesir. Setelah sampai di Iskandaria, pasukan muslim langsung melakukan pengepungan dan akhirnya terjadi kesepakatan (genjatan senjata) antara pasukan muslim dengan pengusa Romawi yang ada di Iskandaria yang berisi 8 pasal, antara lain :
1.      Kewajiban membayar Jizya sebesar dua dinar setiap tahun.
2.      Genjatan senjata berakhir pada tanggal 28 September 624 M.
3.      Pihak Muslim berada di markas ketentaraannya selama masa genjatan senjata, tidak melakukan tindakan – tindakan kemiliteran terhadap Iskandaria dan pihak Romawi menghentikan permusuhan.
4.      Anggota pasukan Romawi yang meninggalkan Iskandaria berhak membawa hartabendanya dan hak miliknya, begitu juga bagi yang masih berada di wilayah Mesir.
5.      Pasukan Romawi di iskandaria menghentikan segala usaha apa pun juga yang bertujuan merebut wilayah Mesir kembali.
6.      Pihak Islam tidak akan mengganggu rumah – rumah ibadah orang Nasrani dan tidak akan campur tangan dalam urusan orang Nasrani.
7.      Pihak Yahudi di izinkan menetap di Iskandaria.
8.      Sejumlah 150 orang perwira Romawi dan 50 orang pembesar Romawi merupakan sandera di tangan pihak muslim untuk jaminan selama pelaksanaan genjatan senjata.     
Perjanjian ini sangat menguntungkan bagi pasukan muslim, karna dengan menguasai bandar Iskandaria yang ramai dan strategis, serta punya benteng yang kokoh pasukan muslim bisa mengontrol wilayah – wilayah Mesir lainnya.   

ò   Kebijaksanaan Khalifah Umar dalam bidang Ekonomi dan Pemerintahan
F   Bidang Ekonomi
Khalifah Umar bin Khattab adalah khalifah yang sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Ia tidak suka kehidupan secara berlebihan, bahkan rumah yang ditempatinya pun amat sederhana.
Wilayah kekuasaan Islam sangat luas memerlukan perencanaan, pengadaan dan pengaturan bidang ekonomi secara matang. Beberapa kebijakan Khalifah Umar dalam bidang ekonomi antara lain :
1.     Membentuk Baitul Maal
2.     Mendirikan Departemen Pajak Tanah (Diwan al-Kharaj)
3.     Mendirikan Departemen Keuangan dan Pajak (Diwan al- Jund)
4.     Menetapkan anggaran Pemasukan dan Pengeluaran negara.

F   Bidang Pemerintahan
Khalifah Umar banyak melakukan inovasi (perubahan) dalam sistim pemerintahan Islam, beliau membangun administrasi negara yang teratur. Beberapa kebijakan Khalifah Umar dalam bidang pemerintahan ialah :
1.     Membuat lembaga Departemen, seperti Departemen Keuangan dan Pajak, Departemen Pendidikan, Kehakiman, dan lain – lain.
2.     Menetapkan Kalender Islam.
3.     Membentuk Sekretaris di setiap Departemen.
4.     Membangun Penjara
5.     Membentuk Angkatan Perang yang tetap dan teratur
6.     Membentuk badan – badan yang mengawasi keuangan negara, tata tertib kebersihan, perdagangan dan lain – lain.
7.     Membagi wilayah kekuasaan Islam yang luas itu, menjadi delapan propinsi, yaitu :
a.         Propinsi Mekkah
b.        Propinsi Madinah
c.         Propinsi Syiria
d.        Propinsi Jazirah
e.         Propinsi Basrah
f.         Propinsi Kuffah
g.        Propinsi Palestina
h.         Propinsi Mesir 

ò   Akhir Pemerintahan Khalifah Umar bin khattab
Khalifah Umar bin Khattab memerintah selama 10 tahun (13 – 23 H/634 – 644 M). Beliau wafat pada hari Ahad, awal bulan Muharram 14 H/644 M dalam usia 63 tahun, dan dimakamkan di sisi makam Abu bakar Ash- Shiddiq dan Rasulullah.
Khalifah Umar bin Khattab wafat akibat tikaman Abu Lu'lu'ah (seorang budak dari persia) saat sedang melaksanakan shalat shubuh. Sebeluk wafat, Khalifah Umar menunjuk 6 orang shahabat terkemuka untuk menggantikannya, antara lain : Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam dan Thalha.
Setelah Khalifah Umar Wafat, keenam sahabat itu sepakat untuk memilih Usman bin Affan sebagai khalifah menggantikan Umar bin Khattab.

¹  Kholifah Usman bin Affan
ò   Usman bin Affan
Usman bin Affan adalah Usman bin affan bin Abul Ash bin Umayah bin Abdul Syam bin Abdul Manaf bin Qushai. Silsila Usman bin Affan dengan Nabi Muhammad bertemu pada kakeknya yang bernama Abdul Manaf bin Qushai.
Usman bin Affan adalah seorang pedagang yang sukses dan terkenal lembut, sabar, tekun dan pemurah. Dengan ketekunan dan kemurahan hatinya dalam berdagang, tidak heran jika ia menjadi pedagang yang berhasil dalam usia yang masih tergolong mudah.
Usman bin Affan masuk Islam karna ajakan sahabatnya yang bernama Abu Bakar, Abu Bakar banyak bercerita tentang kepribadian Nabi Muhammad SAW., kemudian menyarankan agar Usman bin Affan bertemu dengan Rasulullah dan Usman pun  menemui Rasulullah, setelah berbicara banyak dengan Rasulullah Usman menyatakan diri masuk Islam.
Usman bin Affan termasuk golongan As Sabiqunal Awwalun dan juga menjadi suami dari dua putri Rasulullah yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum sehingga beliau diberi gelar Dzun Nurain (yang memiliki dua cahaya)
Usman bin Affan adalah sahabat yang terkenal dengan kedermawanannya, saat terjadi perang beliau tidak hanya menyumbang tenaga tapi juga menyumbangkan harta bendanya seperti pada saat perang tabuk, beliau menyubangan 1000 dinar, 100 ekor kuda dan ratusan ekor unta.

ò   Usman bin Affan menjadi Khalifah
Sebelum wafat Umar bin Khattab mengangkat dewan yang terdiri dari Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Saad bin Abi Waqas yang bertugas untuk mengangkat seorang khalifah.
Setelah Khalifah Umar bin Khattab wafat, Usman bin Affan diangkat oleh para pemuka dan dewan yang dipimpin oleh Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman bin Auf mengangkat tangan Usman bin Affan untuk mengucapkan bai'at di hadapan masyarakat umum.

ò   Langkah – langkah kebijaksanaan Khalifah Usman bin Affan
  Membangun Masjid Nabawi di Madinah
Usman bin Affan adalah orang yang pertama kali melakukan rehabilitasi (perluasan dan perbaikan) Masjid Nabawi. Masjid Nabawi diperluas dan bangunannya diperindah, tiang – tiangnya diganti dengan beton dan sebagian dindingnya diukir dengan indah. 
  Pengumpulan dan penulisan Al-Qur'an
Pada tahun 26 H. Usman bin Affan membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan Al-Qur'an yang beranggotakan Abdullah bin Zubair, Saad bin abi Waqas, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Al-Qur'an yang dibukukan oleh tim ini disebut Mushaf atau Al-Mushaf. Al-Mushaf ditulis sebanyak lima buah yang di taruh di Mekkah, Basrah, Kufah, Syam dan Madinah dan yang di Madinah dipegang oleh Khalifah Usman yang kemudian disebut Mushaf Usmani atau Mushaf Al-Imam.
  Membentuk angkatan laut
Kekuasan Islam pada masa Khalifah usman bin Affan meliputi; Afrika, Mesir, cyprus, dan Konstatinopel. Daerah – daerah kekuasaan Islam tersebut dikelilingi oleh lautan. Atas usul Mu'awiyah bin Abu Sufyan (gubernur Mesir) Khalifah Usman bin Affan menyetujui dibentuknya angkatan laut dan inilah angkatan laut pertama yang dimiliki oleh kaum muslim.
  Perluasan wilayah kekuasaan
Perluasan wilayah kekuasaan Islam pada masa Khalifah usman bin affan meliputi;
1.         Wilayah Afrika meliputi Barqah, Tripoli, dan nubah
2.         Wilayah Asia meliputi Thabaristan, wilayah seberang sungai Jihun, Harah, kabul, Turkistan dan Armenia.
3.         Eropa yaitu pulau Cyiprus (28 H/648 M)
  
ò   Akhir hayat Khalifah Usman bin Affan
Dalam memilih para pejabat yang membantunya Khalifah Usman bin Affan kebanyakan memilih dari pihak keluar dekatnya, karna terlalu percaya dengan para pejabat khalifah kurang mengawasi mereka, sehingga banyak sekali keluhan rakyat yang tidak sampai pada khalifah. Hal itu menjadikan rasa resah dan protes masyarakan dan puncaknya adalah terjadi pemberontakan – pemberontakan terhadap khalifah. Dan pemberontakan – pemberontakan itu juga yang akhirnya menewaskan beliau pada tahun 35 H/656 M.
  
¹  Kholifah Ali bin Abi Tholib
ò   Ali bin Abi Thalib
  Ali bin abi Thalib sebelum masuk Islam
Ali bin Abi Thalib adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib, jadi Ali bin Abi Thalib adalah sepupuh Rasulullah SAW.
Sejas kecil Ali bin Abi Thalib diasuh oleh rasulullah dan Siti Khadijah sehingga dia mendapat didikan dengan akhlak yang terpuji.
Saat Rasulullah diutus menjadi seorang Rasul dan harus menyampaikan agama Islam, maka Ali bin Abi Thalib adalah yang pertama masuk Islam setela Siti khadijah.  
  Ali bin abi Thalib setelah masuk Islam
Ali termasuk anak yang berani dan cerdas. Dengan kedua sifatnya itu walau dalam usia anak – anak, ia senantiasa membela Islam dan Rasullya.
Setelah turunnya ayat yang berbunyi:
وَأَنْذِرْعَشِيْرَتَكَ أَقْرَبِيْنَ
Artinya: "Dan berilah peringatan kepada kaum kerabat yang terdekat".
Kemudian Rasulullah meminta Ali bin Abi Thalib untuk mendampinginya dalam suatu perjamuan begitu juga dalam perjamuan yang kedua kalinya.  
Setelah dewasa Ali bin Abi Thalib juga selalu menjadi pelindung Rasulullah dan ikut berperan serta dalam penyebaran ajaran Islam saat masih di Makkah dan selalu siap membela panji – panji Islam dalam medan perang setelah Islam menjadikan Madinah sebagai negaranya.
Pada masa Khalifah Abu Bakar Ali bin Abi Thalib sebagai penasihat khalifah begitu juga pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan Khalifah Usman bin Affan, dan pada masa Khalifah Umar Ali juga yang mengusulkan agar tahun  Hijriyah dihitung dari hijrah Nabi Muhammad S.A.W.   

ò   Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah
F   Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah (35-40 H/656-661 M)
Setelah Khalifah Usman bin Affan wafat, keadaan masih tetap menegangkan. Kelompok para pemberontak masih berkeliaran di Madinah. Para pemuda banyak yang mendesak agar Ali segera menggantikannya, namun Ali dengan tenang menolak desakan tersebut, karna menurutnya masih banyak sahabat yang dulu berjuang bersama Nabi Muhammad S.A.W. seperti Thalha bin Ubaidillah dan Sa'ad. Mendengar hal itu segerah kaum muslimin mengajak Thalha dan Sa'ad bergabung membai'at Ali bin Abi Thalib. Mereka setuju dan terjadilah pembai'atan Ali bin Thalib sebagai khalifah keempat bagi umat Islam setelah wafatny Nabi Muhammad.  

F   Kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah
    Dalam bidang politik dan pemerintahan
Suasana pemerintahan dan keadaan masyarakat pada masa Ali bin Abi Thalib sudah sangat jauh berbeda dengan para pendahulunya. Maka untuk mengatasi hal ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib mengambil kebijaksanaan antara lain:
a.     Mengganti para gubernur yang diangkat oleh Khalifah Usman. Semua gubernur yang diangkat oleh Khalifah Usman banyak yang tidak disenangi oleh kaum muslimin, malah banyak yang mengangap bahwa gubernur-gubernur itulah yang menyebabkan timbulnya pemberontakan-pemberontakan pada masa Khalifah Usman. Adapun gubernur yang diangkat sebagai pengganti adalah:  
1.     Muawiyah bin Abi Sufyan diganti dengan Sahl bin Hanif sebagai gubernur Syiria
2.     Abdullah bin Amir diganti dengan Usman bin Hanif sebagai gubernur Basrah
3.     Abdullah bin Sa'ad diganti dengan Qais bin Sa'ad sebagai gubernur Mesir 
4.     Umrah bin Shihab sebagai gubernur Kufah
5.     Ubaidah bin Abbas sebagai gubernur Yaman
b.    Menarik kembali tanah milik negara yang dibagikan oleh Khalifah Usman sebagai fasilitas dari negara, penarikan ini dilakukan oleh Khalifah Ali untuk membersihkan pemerintahan.   
    Dalam politik dan militer  
Khalifah Ali bin Abi Thalib memiliki kelebihan dibandingkan dengan khalifah-khalifah yang lain. Beliau adalah pemimpin yang gesit dan cedas, perumus kebijaksanaan yang mengarah kepada kebaikan masa depan, pahlawan yang gagah berani, penasehat yang bijasana, penasehat hukum yang ulung, pemegang teguh tradisi, sahabat sejati dan seorang lawan yang dermawan.
dalam hal ini, pada masa Ali bin Abi Thalib terjadi beberapa perang saudara diantaranya:
1.     Perang Jamal
Perang Jamal (perang Unta) terjadi pada tahun 36 H/657 M. Perang terjadi ini antara kelompok Ali bin Abi Thalib dan kelompok Aisya bersama Thalhah dab Zubair bin Awwam yang tidak mengakui Ali sebagai khalifah. Dalam perang ini Zubair dan Thalha terbunuh sedang kan Aisyah diantarkan oleh Ali bin Abi Thalib kembali ke Madinah dengan selamat.
Perang ini disebut perang Jamal (Unta) karna Siti 'Aisyah yang memimpin perang ini mengendarai unta.
2.     Perang Siffein
Perang ini terjadi atara tahun37 H/657 M, perang ini terjadi karna Muawiyah bin Abi Sufyan yang menjabat sebagai gubernur Syiria pada masa Usman bin Affan tidak mau diganti, bahkan menudu Ali bin Abi Thalib terlibat dalam pembunuhan Usman bin Affan.
Dalam perang ini sebenarnya pihak Ali mendapat kemenangan, sehingga pihak Muawiyah mengangkat Al-Qur'an dengan pedang sebagai tanda damai.
Pihak Muawiyah meminta diadakannya perundingan sedang dari pihak Ali ada yang setuju dan ada yang tidak. Perundingan ini disebut Majlis Tahkim Dumadil Jandal, dalam perundingan tersebut dari pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asy'ari dan dari pihak Muawiyah diwakili oleh Amru bin Ash yang telah memperdaya Abu musa Al Asy’ari.
Sejak saat itu perpecahan umat Islam semakin besar, dikalangan Ali pecah menadi dua yaitu Syi’a (yang tetap setia dengan Ali) dan Khawarij yang keluar dari kelompok Ali dan mengatakan bahwa Ali, Muawiyah dan Amr bin Ash darahnya halal.  
  
    Dalam bidang bahasa
Pada masa pemerintahan Ali bi Abi Thalib, kekuasaan Islam sudah semakin luas. Banyak orang-orang diantara daerah kekuasaan Islam tersebut yang tidak mengerti bahasa Arab sehingga Ali memerintahkan kepada Abu Aswad Addauli untuk membuat ilmu Nahwu (tata bahasa Arab)
    Dalam bidang pembangunan
Pada masa Ali bin Abi Thalib kota Khufa dibangun dan dijadikan pusat pemerintahan dan juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan.  

ò   Wafatnya Ali bin Abi Thalib
Keompok Khowarij yang keluar dari kubuh Ali merencanakan untuk membunuh Ali, Muawiyah dan Amr bin Ash, namun yang berhasil mereka bunuh adalah Ali bin Abi Thalib oleh Abdur Rahman bin Muljam. Khalifah Ali bin Abi Thalib meninggal pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H pada usia 63 tahun dan sejak saat itu masa Khulafaur Rasyidin telah berakhir dan diganti dengan bani Umayya dengan sistim kerajaan.  

ô  WALI SANGA
Wali sanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa bada abad ke -17. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengan dan Cirebon di Jawa Barat.
 Era wali sanga adalah era berakhirnya pengaruh Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Selain berdakwah mereka juga pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka membentuk perdaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesenian, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga pemerintahan.
Sesuai namanya yaitu “Wali Sanga”, jumlah wali yang tergabung didalamnya ada sembilan, yaitu :
  1. Maulana Malik Ibrahim
Maulana malik Ibrahim, keturunan ke-11 Sayidina Husani bin Ali bin Abi Thalib, diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh abad ke-14. Beliau juga disebut Sunan Gresik atau Syekh Magribi. Sebagian cerita rakyat, ada pula yang menyebutnya dengan panggilan Kakek bantal.
Maulana Malik Ibrahim adalah wali pertama yang membawakan Islam ke tanah Jawa. Maulana Malik Ibrahim juga mengajawkan cara-cara baru bercocok tanam, dan merangkul rakyat kebanyakan. Beliau mencari tempat di hati masyarakat ketika itu dilanda krisis ekonomi dan perang saudara di Majapahit. Pada tahun 1419, setelah selesai membangun dan menata pondok pesantren di Leran, Maulana Malik Ibrahim wafat pada tanggal 12 Rabiul Awwal 882 H yang bertepatan pada bulan April 1419 M. Makamnya kini terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Tinur
      
  1. Sunan Ampel
Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmatullah, dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 M di Champa. Ayah beliau adalah Syekh Ibrahim Asmaraqandi. Ketika berdakwah di kerajaan Champa, Syekh Ibrahim Asmaraqandi berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya merubah kerajaan Champa menjadi kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri Champa dan lahirlah Raden Rahmatullah.
Sunan Ampel datang ke Pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya (Dwarawati) yang menikah dengan Prabu Brawijaya V (raja Majapahit).
Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putriseorang adipati Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu : Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan Syarifah (ibu Sunan Kudus).
Untuk berdakwah Sunan Ampel diberi hadiah tanah di ampel Dentah yang berawa-rawa oleh Prabu Brawijaya V. beliau membangun dan memgembangkan pondok pesantren di Ampel Denta. Pada pertengahan abad ke-15 M, pesantren tersebut menjadi menjadi sentral pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Diantara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Dalam dakwahnya beliau pertama merangkul masyarakat biasa. Cara yang beliau gunakan adalah dengan pembauran dan pendekatan. Bukan hal yang mudah untuk merubah tradisi yang dipengaruhi agama Hindu-Budha, Animisme dan Dinamisme, menjadi paham ketauhidan. Apalagi beliau berasal dari Champa yang memiliki bahasa yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Sedikit-demi sedikit beliau mengenalkan agama Islam mulai dari yang sederhana yang menekankan pada penanaman aqidah dan ibadah. Beliau-lah yang mengenalkan Moh Limo (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon) yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak mengunakan narkotika, dan tidak berzina”.
Namun dengan kegigihannya beliau berdakwah, Beliau berhasil menanamkan ke-Islaman di Jawa, bahkan kaum muslimin menjadi golongan yang disegani di Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahitpun sangat menghormati dan menghargai hak-hak kaum muslimin. Bahkan tidak sedikit punggawa-punggawa Majapahit yang akhirnya memeluk Islam.
Walaupun ada kedekatan hubungan antara beliau dan kerajaan Majapahit dari sislsila keluarga dan pengaruh ajaran Islam yang telah banyak dianut punggawa Majapahit, namun beliau tidak pernah menggunakan kekuasaan sebagai kendaraan berdakwah atau mencari kedudukan. Beliau tetap berdiri dan mengayomi pada semua golongan. Beliau juga dikenal mengajarkan Islam dengan menjaga kemurnian Aqidahnya, dimana beliau bersama Sunan Giri dan Sunan Derajat menolak dimasukkannya Islam dalam unsur budaya untuk berdakwah. Untuk itu mereka disebut dengan kaum “Putihan”.
Selain menggunakan cara pendekatan dan pembauran, beliau juga menggunakan cara berdakwah berpikir logis dan intelek pada kaum cerdik cendekia. Cotohnya adalah ketika seorang biksu menemui Sunan Ampel yang kemudian terjadilah percakapan sekitar aqidah sebagai berikut :
Biksu : “Setiap hari tuan melakukan sembahyang menghadap ke arah qiblat. Apakah Tuhan tuan ada di sana?”.
Sunan Ampel : “Setiap hari anda memasukkan makanan ke dalam perut agar anda bisa bertahan hidup. Apakah hidup anda ada di dalam perut?”
Biksu : Terdiam dan tidak memjawab, “Apa maksud tuan berkata begitu?”
Sunan Ampel : “Saya sembahyang menghadap qiblat, bukan berarti saya tahu tuhan berada di sana. Saya tidak tahu tuhan berada di mana. Sebab, kalau manusia dapat mengetahui keberadaan Tuhannya, lantas apa bedanya manusia dengan Tuhan?. Kalau demikian buat apa saya sembahyang?!”
Demikian sibiksu kemudian masuk Islam karena ia gamang akan otentisitas ajaran agamanya.
Pada tahun 1479, Sunan Ampel dan para wali Sanga mendirikan masjid Agung Demak. Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel.     
              
  1. Sunan Bonang
 Sunan Bonag dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Makdum Ibrahim. Beliau adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Jepara.
Sunan Bonang banyak berdakwah dengan kesusastraan yaitu dengan banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain suluk Wijil yang dipengaruhi oleh kitab Al Siddiq karya Abu Sa’id Al Khair. Sunan Bonang uga menggubah tembang tamba ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan dimakamkan di Tuban.

  1. Sunan Derajat
Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470, dengan nama Raden Qosim yang kemudian mendapat gelar Raden Syarifuddin. Beliau adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.
Sunan Drajat terkenal dengan kecerdasannya. Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau mengambil tempat di desa Drajat wilayah kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan XVI M. Beliau memegang kendali keprajaan di wilayah Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun.
Beliau sebagai wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial yang sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Beliau terlebih dahulu mengusahakan kesejahtraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.
Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan agama Islamdan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah, Sultan Demak I pada tahun saka 1442 atau 1520 M.  

  1. Sunan Giri
Sunan Giri lahir pada tahun 1442 di Blambangan, beliau putra Syekh Maulana Ishaq yang menikahi Dewi Sekardadu (putri Raja Blambangan). Maulana Ishaq menikahi Dewi Sekardadu setelah berhasil mengatasi wabah penyakit di Kerajaan Blambangan. Maulana Ishaqpun kemudian berdakwah di Blambangan dan mempunyai banyak pengikut termasuk Raja Blambangan Prabu Menak Sembuyu.
Karena pengaruh Maulana Ishaq makin meluas, Menak Sembuyumenjadi iri hati dan akhirnya berniat membunuh Maulana Ishaq. Maulana Ishaqpun akhirnya melarikan diri ke Pasai dan berdakwah di sana.
Sepeninggal Maulana Ishaq wabah penyakit kembali muncul. Karena dirasuki iri hati dan dengki pada Maulana Ishaq, Menak Sembuyu menganggap kelahiran Sunan Girilah yang telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Ia memaksa Dewi Skardadu untuk membuang anaknya dan Dewi Skardadupun menghanyutkan bayi Sunan Giri dalam sebuah kotak ke laut.
Kemudian,bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawah ke Gresik. Di Geresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Jaka Samudra.
Ketika berusia kurang lebih 11 tahun, Jaka Samudra dibawah ibunya ke Surabaya untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu.
Setelah agak dewasa kemudian, Sunan Ampel megirimnya dan Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Jaka Samudra. Disinilah Jaka Samudra, yang ternyata bernama Raden Paku, mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dulu dia dulu dibuang. Namun ayah beliau menasehati agar beliau jangan sampai dirasuki oleh dendam kepada kakeknya.
Setelah tiga tahun berguru pada ayahnya, Raden Paku dan Makdum Ibrahim melanjutkan belajar agama selama 1 tahun. Setelah itu Raden Paku yang lebih dikenal dengan Raden ‘Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Yang dituju pertama adalah rumah ibu angkatnya Nyai Gede Pinate.
Beliau membantu ibu angkatnya berniaga sambil berdakwah. Setelah beberapa lama berniaga, beliau ingin mengundurkan diri dan ingin mendirikan pesantren. Selama 40 hari, Raden Paku bertafakur disebuah gua. Ia bersimpuh, meminta petunjuk Allah SWT, ingin mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, ayahnya datang secara ghaib dan memerintahkan Sunan Giri mengambil sebuah bungkus tanah. Lalu beliau diperintahkan mencari tanah yang warnahnya sama, dan disitulah hendaknya pesantren berdiri.
Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Suna Giri. Dalam bahasa sansekerta, “Giri” berarti gunung.
Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Bahkan murid sunan Giri bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam diatas Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Karena tersohor dalam ilmu fikihnya, beliau mendapat gelar Sultan Al-Fakih.
Di bidang tauhid beliau sangat lurus dan keras. Sisa-sisa pengaruh Hindu-Budha beliau babat habis. Beliau tidakmau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya merusak kemurnian Islam. Karena itu Sunan Giri dianggap pendukung kaum “putihan”, bersama Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga, dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati.
Misalnya tentang pertunjukan wayang. Perdebatan para wali sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. Beberapa wali dimotori Sunan Kalijaga ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang. Tapi, menurut Sunan Giri menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia. Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang diubah yaitu menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itu wayang beber menjadi wayang kulit.
Ketika Sunan Ampel (ketua para wali) wafat, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan Sunan Kalijaga Sunan Giri diberi gelar Prabu Satmata. Diriwayatkan pemberian gelar itu jatuh pada tanggal 9 Maret 1487, yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Dikalangan wali sanga, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan.
Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya titumbangkan oleh Sultan agung.
Untuk tujuan dakwahnya, Sunan Giri mengarang beberapa tembang termasuk lagu-lagu permainan anak-anak seperti Delikan, Jamuran, Jithungan, dan Cublak-Cublak Suweng. Juga beberapa gending seperti Asmaradana dan Pucung.  
      
  1. Sunan Kali Jaga
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Beliau adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Brandal Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.
Dalam suatu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, dan mempunyai putra 3 yaitu : Raden Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayu, dan Dew sofiah.
Dalam dakwahnya Sunan Kalijaga mempunyai pola yang sama dengan guru beliau, yaitu Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung sufistik berbasis salaf. Beliau juga memiliki kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakah.
Beliau sangat toleran pada budaya lokal, dan berpendapat bahwa masyarakat akan menjahu jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap yaitu mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalalah Ilir-Ilir, dan gundul-gundul Pacul. Beliaulah penggagas baju taqwa, perayaan sekaten, gerbeg maulid, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk dadi Ratu.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagai adipatih di Jawa memluk Islam melalui Sunan Kalijaga, diantaranya adalah adipatih Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Ketika wafat, beliau dimakamkan di desa kadilangun, dekat kota Demak (Bintoro). Makam beliau hingga sekarang masih ramai diziarai orang.

  1. Sunan Kudus
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung, putra Raden Usman Haji yang belum diketahui silsilahnya. Sunan Kudus adalah buah pernikahan Sunan Ngudung dengan Syarifah, adik Sunan Bonang. Sunan Kudus keturunan ke-14 dari Husain bin Ali.
Dalam melakukan dakwah penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi sebaga sarana penarik masyarakatuntuk datang mendengarkan dakwahnya. Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah masjid di desa Kerjsan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus, Jawa Tengah. Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dan menggantinya dengan hewan kerbau dalam perayaan Idzul Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu yang masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini. Beliau diperkirakan wafat pada tahun 1550. 

  1. Sunan Muria  
Sunan Muria atau Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga yang menikah denga Dewi Sujiah, putri Sunan Ngudung. Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat beliau dimakamkan.

  1. Sunan Gununga Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah lahir sekitar tahun 1450. Beliau adalah putra Syekh Jamaluddin Akbar. Dititik ini (Syekh Jamaludin Akbar Gujarat) bertemulah garis nasab sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati. Ibunda Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang, seorang putri keturunan keraton Pajajaran, anak dari Sri Baduga Maharaja, atau dikenal juga sebai Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai Subang Larang. Makam dari Nyai Rara Santang bisa kita temui didalam kelenteng di Pasar Bogor, berdekatan dengan pintu masuk Kebun Raya Bogor.  

Artikel Terkait

1 comments so far